Ehsan menambahkan bahwa ibadah haji juga menciptakan peluang untuk pertukaran budaya langsung antara jamaah dari berbagai belahan dunia.
“Gerakan dan tindakan kebaikan adalah cara utama orang saling memahami, yang menciptakan hubungan yang lebih spontan dan personal,” terangnya.
Namun, saat ini, perangkat digital dan teknologi penerjemahan telah mengubah banyak aspek dari pengalaman ziarah.
“Teknologi telah secara signifikan meningkatkan pengalaman jamaah melalui aplikasi penerjemahan, peta pintar, dan solusi digital,” kata Ehsan, menekankan bahwa interaksi manusia tetap menjadi bagian terpenting dari ibadah haji.
“Teknologi mungkin mempermudah pelayanan, tetapi emosi manusia yang tuluslah yang meninggalkan dampak terdalam dan paling abadi dalam ingatan para peziarah.” Tambahnya.
Lebih lanjut, Wejdan mengatakan bahwa ritual dan pengalaman bersama selama ibadah haji secara alami membantu menghilangkan hambatan di antara para jamaah. Meskipun mereka memiliki latar belakang yang berbeda.
“Kebersamaan di tempat yang sama pada waktu yang sama menciptakan sesuatu yang istimewa,” katanya.
Wejdan mengatakan bahwa keberagaman yang hadir selama ibadah Haji seringkali memperkuat nilai-nilai kesetaraan dan saling menghormati.
“Saya percaya bahwa ketika jutaan orang berkumpul selama ibadah Haji meskipun berbeda ras, budaya, bahasa, dan penampilan, terutama di tempat-tempat seperti Arafat dan tempat-tempat suci, seseorang menyadari bahwa perbedaan-perbedaan ini justru menambah keindahan,” kata Wejdan.
Dia mengatakan bahwa pengalaman bertahun-tahun bekerja dengan para peziarah dari berbagai negara juga menyoroti pentingnya kesadaran budaya, terutama ketika komunikasi terbatas.
“Bahkan saat memberikan hadiah, Anda harus peka terhadap budaya. Kelompok yang berbeda menghargai hal-hal yang berbeda,” pungkasnya.
**
Penulis: Agung Ramadhan



Leave a comment