Home Index Rupiah Kian Tertekan 17.672/USD, Komentar Prabowo Dinilai Picu Persepsi Negatif Pasar
IndexKeuangan

Rupiah Kian Tertekan 17.672/USD, Komentar Prabowo Dinilai Picu Persepsi Negatif Pasar

86
ILUSTRASI. Rupiah melemah terhadap Dolar AS. (Sumber: KONTAN/Cheppy)

KONEQ.ID – Nilai tukar mata uang Indonesia, Rupiah (IDR), kian tertekan pada perdagangan pagi hari dan melanjutkan tren pelemahan di tengah penguatan dolar (USD) Amerika Serikat (AS). Sementara analis menilai pasar turut merespon negatif komentar Presiden Prabowo terkait Rupiah-Dolar AS.

Dilansir dari Kontan, pada Senin (18/5/2026), Rupiah dibuka di level Rp 17.628 per USD. Ini membuat Rupiah melemah 0,18% dari penutupan pasar sebelumnya, Jumat (15/5/2026), yang berada di level Rp 17.597 per USD.

Lebih lanjut, pukul 10.45 WIB, Rupiah semakin melanjutkan pelemahan 0,43% secara harian, dan bertengger di level Rp 17.672 per USD.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, berpandangan, selain dipengaruhi faktor eksternal, pernyataan pemerintah dinilai turut memengaruhi persepsi pasar terhadap stabilitas mata uang domestik.

Ia menilai komentar Presiden Prabowo Subianto terkait pelemahan rupiah yang dianggap tidak berdampak signifikan bagi masyarakat desa, berpotensi memicu respons negatif dari pelaku pasar.

“Ya, rupanya pernyataan dari Presiden Prabowo tersebut juga berakibat fatal terhadap pelemahan mata uang rupiah,” ujar Ibrahim dalam keterangannya dikutip Senin (18/5/2026).

Menurut dia, pelemahan Rupiah tidak dapat dipandang sepele lantaran berdampak luas terhadap perekonomian nasional. Penguatan Dolar AS akan meningkatkan beban impor, terutama impor minyak mentah yang masih tinggi.

Ibrahim menjelaskan, kenaikan dolar biasanya diikuti penguatan harga minyak mentah dunia. Kondisi itu berpotensi memperbesar biaya impor energi Indonesia yang mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari.

Selain itu, pelemahan rupiah dinilai dapat mendorong masyarakat mengalihkan simpanan dari aset berbasis rupiah ke valuta asing (valas), sehingga tekanan terhadap mata uang domestik semakin besar.

Ia pun menyebut, pemerintah semestinya lebih fokus menyampaikan langkah konkret untuk menjaga stabilitas rupiah. Termasuk strategi mengurangi ketergantungan impor energi dan mengantisipasi dampak fluktuasi global.

“Seharusnya pemerintah memberikan satu masukan ya tentang bagaimana tentang kebutuhan minyak mentah yang cukup tinggi. Kemudian akan ada B50 sebagai pendamping dari bahan bakar fosil ya, kemudian bagaimana cara melakukan menangani krisis, agar rupiah ini kembali mengalami penguatan,” katanya.

Lebih lanjut, Ibrahim menilai masyarakat di daerah saat ini juga semakin memahami isu ekonomi, termasuk pergerakan dolar AS maupun instrumen investasi, seiring perkembangan teknologi dan akses informasi yang semakin luas.

Karena itu, komunikasi pemerintah terkait kondisi ekonomi dinilai perlu lebih hati-hati agar tidak memicu kekhawatiran tambahan di pasar keuangan.

**

Penulis: Agung Ramadhan

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seputar ekonomi, bisnis, dan lainnya. Ayo terhubung, dan berdampak!

Related Articles

EkoBizIndex

Ekonomi Diprediksi Tumbuh 6 Persen di 2027, Menkeu Proyeksikan 2,4 juta Lapangan Kerja Baru

KONEQ.ID – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan 2,4 juta lapangan kerja...

IndexPemerintah

Sulteng Buka Peluang Kerja Sama Jerman di Sektor Pertanian hingga Mineral

KONEQ.ID – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Pemprov Sulteng) membuka peluang kerja sama...

HumanioraIndex

POPDA XXIV Sulteng 2026 Resmi Dimulai, Gubernur Tekankan Prestasi dan Sportivitas

KONEQ.ID – Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Anwar Hafid, secara resmi membuka Pekan...

IndexKeuangan

OJK Sebut Kontribusi Pindar Untuk UMKM Semakin Meningkat

KONEQ.ID – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut kontribusi Pinjaman Daring (Pindar/fintech lending)...