KONEQ.ID – Pasar modal Indonesia terperosok dengan tekanan jual yang cukup signifikan sejak awal tahun 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun ke level 5.594, pada Jumat (5/6/2026). Angka tersebut mencatatkan penurunan lebih dari 8% dalam periode 5 tahun terakhir.
Pelaku pasar modal merespon berbagai dinamika ekonomi Indonesia dengan sangat berhati-hati. Bahkan muncul sentimen “sell Indonesia” di tengah dorongan kepada pemerintah untuk segera memulihkan kepercayaan investor.
Fenomena ini juga memunculkan kekhawatiran mengenai meluasnya sentimen negatif, yang dapat memicu pelemahan indeks saham lebih dalam jika tidak segera ditangani.
Dilansir dari IDXChannel, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menjelaskan bahwa pergerakan di lantai bursa saham memang sangat bergantung terhadap persepsi psikologis para investor.
Karakteristik pasar modal yang dinamis membuat arus keluar masuk modal sering kali tidak hanya ditentukan oleh angka-angka teknis semata.
“Karakteristik dari pasar saham itu memang sering kali sentimen, faktor sentimen itu mempengaruhi ya jual beli. Nah, sehingga kalau ada sentimen yang negatif terhadap Indonesia itu sering kali mempengaruhi ya kinerja saham,” ujar Faisal dalam keterangannya dikutip Minggu (7/6/2026).
Lebih lanjut, Faisal menyoroti melemahnya pasar saham domestik belakangan ini merupakan implikasi langsung dari cara pelaku pasar memandang kondisi Indonesia saat ini.
Meskipun indikator ekonomi makro mungkin terlihat stabil di atas kertas, perspektif publik terhadap masa depan ekonomi jauh lebih berpengaruh terhadap keputusan investasi.
Oleh karena itu, kebijakan otoritas diharapkan tidak hanya terpaku pada penguatan data fundamental, tetapi juga harus mampu meredam gejolak ekspektasi negatif.
Faisal menegaskan bahwa langkah komunikatif dan respons yang konkret dari pembuat kebijakan merupakan kunci utama untuk menenangkan situasi.
“Pemerintah perlu mewaspadai faktor sentimen seperti ini karena bisa jadi kalaupun fundamental bukan menjadi faktor utamanya, tapi sering kali faktor sentimen, perspektif, ya. Nah, ini sehingga artinya apa yang menjadi kekhawatiran pasar harus betul-betul direspon oleh pemerintah secara serius dan dengan langkah yang tepat, ya dan untuk bisa mengembalikan kepercayaan para pelaku usaha,” kata dia.
Dengan adanya respons yang serius dan terukur, diharapkan kepercayaan para pelaku usaha serta investor dapat kembali pulih. Langkah ini dipandang mendesak guna menjaga stabilitas pasar keuangan nasional di tengah ketidakpastian global yang masih terus membayangi.
Adapun menurut Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, fundamental ekonomi nasional masih berada dalam kondisi yang baik dengan didukung kondisi fiskal yang kuat. Karena itu, dia meminta pelaku pasar dan investor tidak terbawa sentimen negatif yang berkembang.
Purbaya menilai “Sell Indonesia” yang ramai diperbincangkan lebih banyak dipengaruhi sentimen pasar dibandingkan kondisi fundamental ekonomi yang sebenarnya. Dia bahkan menyinggung salah satu tulisan yang memunculkan tren tersebut karena dinilai tidak menggambarkan kondisi Indonesia secara utuh.
“Itu salah satu penulis mungkin yang tidak tahu keadaan Indonesia seperti apa. Makanya kemarin saya percepat itu APBN Kita untuk memperlihatkan ke pasar bahwa kondisi fiskal kita baik, ekonominya kita juga cukup kuat, sehingga nanti lama-lama sentimen negatif itu bisa hilang,” ujar dia.
**
Editor: Agung Ramadhan


Leave a comment