Home Humaniora May Day Strong 2026 Serukan Aksi “Pekerja Lebih Penting Dari Miliarder”
HumanioraIndex

May Day Strong 2026 Serukan Aksi “Pekerja Lebih Penting Dari Miliarder”

2
Ilustrasi May Day Strong Art (Sumber: Vida Pavesich)

KONEQ.ID – Gerakan “May Day Strong” membawa narasi dan menyerukan aksi “pekerja lebih penting dari miliarder” dalam peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di tahun 2026. Pergerakan ini merupakan koalisi aksi protes dari berbagai elemen masyarakat terutama di Amerika Serikat.

Laporan Kim Kelly dari The Guardian, Rabu (22/4), mengatakan bahwa siapa pun yang menghadiri aksi demonstrasi “No Kings” pada bulan Maret 2026 lalu, mungkin telah mengetahui May Day Strong sebagai upaya terbaru untuk memprotes kebijakan pemerintahan Trump.

“Aksi protes satu hari pada tanggal 1 Mei ini mengambil inspirasi dari aksi besar-besaran yang melumpuhkan Minneapolis pada bulan Januari dengan meminta warga Amerika untuk tidak berbelanja, bekerja, atau pergi ke sekolah. Aksi unjuk rasa, pawai, dan diskusi terbuka juga akan berlangsung di seluruh negeri,” tulis Kim Kelly dalam laporannya dikutip Jumat (1/5/2026).

Sementara itu May Day Strong menyampaikan beberapa tuntutannya. Pertama, memajaki “orang kaya” sebagai kebijakan utama dalam perpajakan. Hal ini menuntut pengenaan pajak yang lebih tinggi dan progresif kepada korporasi raksasa dan individu super kaya sehingga tidak terjadi ketimpangan ekstrim.

Kedua, menolak badan imirasi dan bea cukai, karena penangkapan, penggerebekan, dan deportasi terhadap pekerja imigran. Selain itu juga penolakan perang dan militer swasta yang melayani kekuasaan otoriter. Protes menuntut aksi perdamaian global tanpa peperangan serta alokasi anggaran untuk kesejahteraan sosial dan hak buruh, bukan untuk senjata atau konflik militer.

Tuntutan ketiga, perluasan demokrasi dan hak suara buruh. Hal ini menuntut agar kebijakan negara lebih mengutamakan hak-hak rakyat dan pekerja daripada kepentingan pemilik korporasi. Perlindungan mutlak atas hak suara pekerja dan masyarakat umum menjadi landasan penting demokrasi.

Lebih lanjut laporan The Guardian juga mengutip pernyataan Neidi Dominguez selaku Direktur eksekutif & pendiri Organized Power in Numbers dan anggota tim eksekutif May Day Strong. Ia menyampaikan bahwa Gerakan buruh tidak dapat maju sambil mengabaikan serangan terhadap demokrasi.

“Gerakan pro-demokrasi tidak bisa meminta kaum pekerja untuk membela prinsip-prinsip abstrak sementara mereka tidak mampu membeli rumah, membayar tagihan, atau mengakses layanan kesehatan. Kita membutuhkan gerakan nasional. Itulah mengapa organisasi buruh dan masyarakat akan berjuang keras pada 1 Mei ini,” katanya.

Sejak 2024, koalisi May Day Strong telah menyelenggarakan pelatihan pengorganisasian Sekolah Solidaritas, berbagi perangkat panduan, dan mendorong orang untuk menyelenggarakan acara Hari Buruh mereka sendiri.

Tujuannya adalah “hari gangguan ekonomi nasional”, kata penyelenggara – dengan menghentikan aktivitas bisnis seperti biasa, para pengunjuk rasa akan menunjukkan betapa kuatnya kelas pekerja ketika mereka mengerahkan kekuatan kolektifnya.

**

Penulis: Agung Ramadhan

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seputar ekonomi, bisnis, dan lainnya. Ayo terhubung, dan berdampak!

Related Articles

ArtikelIndex

Lindungi Pekerja di Tengah Gejolak Ekonomi

KONEQ.ID – Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day setiap 1 Mei...

IndexPemerintah

KPK Serahkan Barang Hasil Rampasan Senilai Rp204 Juta ke Pemprov Sulteng

KONEQ.ID – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyerahkan barang hasil rampasan negara kepada...

IndexPemerintah

Kementerian Ekraf Jajaki Kolaborasi Bersama Meta, Perluas Pasar Internasional

KONEQ.ID – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) menjajaki peluang kolaborasi bersama...

EkoBizIndex

BI Dorong Ekonomi Berbasis Permintaan Domestik, Optimalkan Pembiayaan Produktif

KONEQ.ID – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menegaskan bahwa perekonomian Indonesia...