KONEQ.ID – Indonesia resmi menjadi salah satu pendiri organisasi kerja sama kecerdasan buatan (AI) dunia atau World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO). Sementara nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mampu meningkat menjadi US$366 miliar pada 2030.
Laporan Bloomberg Technoz menyampaikan terdapat 29 negara yang menandatangani deklarasi sebagai pendiri WAICO. Dari kawasan ASEAN, terdapat lima negara yakni Indonesia, Malaysia, Kamboja, Laos, dan Myanmar.
Selain itu, organisasi tersebut juga diikuti oleh sejumlah negara anggota BRICS, Eurasian Economic Union (EAEU), negara-negara Afrika, Amerika Latin, Timur Tengah, Asia Selatan, hingga Eropa Timur.
Keputusan Indonesia untuk bergabung sebagai pendiri WAICO merupakan upaya tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Terbatas yang dilakukan pada 13 Juli 2026, sebagaimana diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, di Shanghai, China, Jumat (17/7/2026) malam.
“Sebagai pendiri, Indonesia memiliki kesempatan emas untuk berkontribusi nyata dalam kebijakan, dalam pengembangan tata kelola global, serta ikut aktif dalam kelembagaan WAICO sendiri,” kata Airlangga dalam keterangannya dikutip Minggu (19/7/2026).
Ia mengatakan bahwa penandatanganan deklarasi pendirian WAICO dilakukan di sela penyelenggaraan World Artificial Intelligence Conference (WAIC) di Shanghai, China.
Airlangga menilai pembentukan WAICO juga sejalan dengan potensi ekonomi digital Indonesia yang terus berkembang. Nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai US$130 miliar pada 2026 dan meningkat menjadi US$366 miliar pada 2030.
Di samping itu, lewat potensi ini, Indonesia juga terus mendorong penyelesaian Digital Economy Framework Agreement (DEFA) di ASEAN.
“Jadi ini sebetulnya bukan sesuatu yang baru, tetapi bagi Indonesia ini sudah berproses dan di Indonesia sendiri sudah diluncurkan Industri 4.0 di tahun 2018, di mana salah satu komponennya adalah mengenai artificial intelligence,” tuturnya.
Pada kesempatan yang sama, dilansir IDXChannel melaporkan, kehadiran Indonesia di lembaga yang memiliki personalitas hukum internasional ini, bertujuan memastikan arah pengembangan tata kelola AI global tetap berpusat pada manusia (human-centric approach).
“Melalui wadah ini, Indonesia berkomitmen untuk mengambil peran aktif menjembatani kesenjangan kemampuan teknologi secara global. Kehadiran para perwakilan Pemerintah negara sahabat menegaskan bahwa kita memiliki visi yang sama dalam mengelola AI agar lebih aman, tepercaya, dan beretika,” ujar Airlangga.
Dalam implementasi domestik, Menko Airlangga memaparkan bahwa teknologi kecerdasan buatan ini akan dioptimalkan untuk menyokong efisiensi di sektor pertanian modern, pengelolaan energi terbarukan, transisi energi, hingga inovasi layanan kesehatan digital.
Namun, ia menggarisbawahi bahwa ekspansi AI tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan infrastruktur digital yang kokoh, khususnya kesiapan Pusat Data (Data Center) di dalam negeri.
Sebagai tindak lanjut konkrit dari kemitraan strategis ini, pemerintah akan segera memperkuat koordinasi lintas Kementerian dan Lembaga (K/L).
**
Editor: Agung Ramadhan












Leave a comment