Home EkoBiz Ekspor Minyak Kelapa RI Kedua Terbesar di Dunia, Kuasai 22 Persen Pasar Global
EkoBizIndex

Ekspor Minyak Kelapa RI Kedua Terbesar di Dunia, Kuasai 22 Persen Pasar Global

10
Petani Kelapa memasuki masa panen. (Sumber: IDX Channel)

Sejauh ini, pilar pasar utama ekspor Indonesia meliputi Belanda, China, Filipina, Malaysia, dan Amerika Serikat. Ke depan, Indonesia masih memiliki ruang penetrasi yang luas untuk menyasar pasar Eropa serta kawasan non-tradisional lainnya.

Langkah tersebut sejalan dengan tren global yang mulai beralih ke gaya hidup sehat serta penggunaan bahan baku alami untuk industri pangan, kosmetik, dan farmasi.

“Sebagai salah satu produsen kelapa terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi untuk melakukan penetrasi ekspor ke pasar yang menaruh perhatian pada produk berbasis keberlanjutan, seperti Uni eropa,” ungkap Rini.

Proyeksi Nilai Ekspor

Memasuki tahun anggaran 2026, IEB Institute memproyeksikan nilai ekspor minyak kelapa nasional akan tumbuh moderat di kisaran 9 persen. Prediksi ini didasarkan pada ekspektasi mulai pulihnya kapasitas produksi kelapa dari negara kompetitor seperti Filipina, yang secara bertahap akan membawa harga kelapa global kembali ke tingkat normal.

Guna menghadapi normalisasi harga tersebut, Rini menegaskan bahwa Indonesia wajib mengatasi tantangan struktural di sektor hulu, terutama menyangkut ketahanan pasokan bahan baku.

Sektor perkebunan kelapa nasional saat ini dibayangi oleh masalah penuaan pohon (aging), rendahnya produktivitas petani swadaya, faktor cuaca ekstrem, hingga maraknya aktivitas ekspor kelapa bulat (utuh) ke luar negeri yang mengurangi jatah bahan baku industri lokal.

Sebagai solusi, pemerintah telah menggulirkan program replanting perkebunan kelapa dengan realisasi mencapai 44,9 ribu hektare pada 2024, dan menargetkan perluasan cakupan program hingga ratusan ribu hektare untuk periode 2026–2027.

“Peremajaan kebun kelapa dan penguatan hilirisasi menjadi strategi kunci untuk menjaga keberlanjutan industri minyak kelapa nasional,” ujar Rini.

Lebih lanjut, Ia menjelaskan, Pemerintah telah memulai langkah peremajaan kebun dengan realisasi sekitar 44,9 ribu hektare pada 2024, serta menargetkan perluasan program replanting hingga ratusan ribu hektare pada periode 2026–2027. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas kelapa dan menjamin pasokan bahan baku bagi industri pengolahan dalam negeri.

Di sektor hilir, peningkatan kapasitas industri pengolahan dinilai krusial untuk menciptakan nilai tambah, mengoptimalkan penyerapan kelapa domestik, dan memastikan produk yang diekspor memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi.

“Peremajaan kebun kelapa dan hilirisasi menjadi strategi untuk menjaga kesinambungan pasokan bahan baku minyak kelapa di masa depan. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat peran minyak kelapa sebagai komoditas potensial yang berkelanjutan dan mampu mendorong kinerja ekspor nasional ke depan,” pungkas Rini.

**

Penulis: Agung Ramadhan

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seputar ekonomi, bisnis, dan lainnya. Ayo terhubung, dan berdampak!

Related Articles

EkoBizIndex

Analis Timbang Untung-Buntung Piala Dunia FIFA 2026 Bagi Ekonomi AS

Awal bulan ini, seorang pejabat tinggi FIFA membantah kritik terkait harga tiket,...

EkoBizIndex

Robot Humanoid dan AI Jadi Sorotan Utama di World Intelligence Expo 2026

KONEQ.ID – Robot humanoid dan AI (Artificial Intelligence) untuk pertama kalinya memiliki...

EkoBizIndex

Promotor Sebut Harga Tiket Konser Tak Asal Naik Meski Rupiah Melemah

KONEQ.ID – Promotor konser musik di Indonesia memastikan pelemahan nilai tukar rupiah...

IndexKorporat

Klub Italia Como 1907 Milik Djarum Group Berhasil Masuk UCL

KONEQ.ID – Klub sepakbola Italia milik Djarum Group, Como 1907, dipastikan akan...