KONEQ.ID – Anggap saja ini nostalgia. Sebelum tahun 2000-an mahasiswa sangat akrab dengan tradisi diskusi, seminar, bedah buku, dan berbagai forum intelektual lainnya. Aktivitas semacam itu bukan sekadar pelengkap kehidupan kampus, melainkan bagian dari keseharian mahasiswa.
Saya bersama teman-teman saat itu selalu mencari ruang diskusi. Jika tidak ada kegiatan yang tersedia, kami mengadakannya sendiri. Hari Sabtu bisa dihabiskan berjam-jam di perpustakaan daerah untuk membaca referensi, menyusun bahan, lalu mendiskusikan gagasan dengan penuh semangat.
Dalam forum-forum tersebut hampir tidak ada istilah “pokoknya”. Setiap pendapat harus memiliki dasar argumentasi. Perbedaan pandangan dianggap sebagai kekayaan intelektual, bukan ancaman. Tidak ada menang atau kalah, tidak ada yang merasa paling pintar atau bodoh. Semua saling belajar dan memperkaya wawasan.
Ironisnya, ketika informasi justru melimpah di era digital, tradisi intelektual semacam itu tampak semakin berkurang. Diskusi mendalam, seminar akademik, maupun bedah pemikiran tidak lagi menjadi magnet utama bagi sebagian besar mahasiswa.
Bahkan tidak sedikit yang merasa cukup dengan potongan informasi dari internet atau media sosial tanpa melakukan verifikasi dan pendalaman lebih lanjut. Lebih parah, ada sekelompok mahasiswa yang membubarkan diskusi dan enggan berdialog
Fenomena ini tentu memprihatinkan. Kemudahan memperoleh informasi tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman pengetahuan.
Banyak informasi beredar begitu cepat, tetapi tidak semuanya membantu membangun kemampuan berpikir kritis. Akibatnya, ruang dialog yang seharusnya menjadi tempat bertemunya berbagai gagasan mulai tergeser oleh budaya komentar singkat dan penilaian instan.
Dialog sebagai Tradisi Akademik
Sebagai agent of change dan kaum intelektual, mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk merawat budaya dialog multiperspektif. Dialog bukan sekadar bertukar pendapat, melainkan proses memahami realitas dari berbagai sudut pandang dengan plus minus dinamika dan dialektikanya.
Dalam masyarakat yang semakin beragam, kemampuan mendengar dan memahami pandangan berbeda menjadi sangat penting. Dialog yang sehat mampu membangun empati, mengikis prasangka, serta menjembatani perbedaan yang berpotensi melahirkan konflik sosial.
Selain itu, berbagai persoalan bangsa saat ini semakin kompleks. Isu kemiskinan, lingkungan hidup, pendidikan, teknologi, hingga politik tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu cara pandang. Karena itu, mahasiswa perlu membiasakan diri melihat suatu masalah dari perspektif sosial, ekonomi, budaya, hukum, dan politik secara bersamaan.


Leave a comment