Home EkoBiz UMKM Hadapi Tekanan Berlapis, INDEF: Tidak Hanya Jangka Pendek
EkoBizIndex

UMKM Hadapi Tekanan Berlapis, INDEF: Tidak Hanya Jangka Pendek

38
Usaha telur ayam. (Sumber: Agung)

KONEQ.ID – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kini tengah menghadapi berbagai tantangan dan tekanan berlapis imbas lemahnya daya beli masyarakat serta berbagai persoalan struktural.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Nur Komaria mengatakan, UMKM saat ini menghadapi tantangan yang tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga persoalan struktural yang belum terselesaikan.

Menurutnya, struktur UMKM di Indonesia masih didominasi oleh pelaku usaha ultra mikro dan mikro, sementara jumlah usaha menengah relatif jauh lebih sedikit. Selain itu, berbagai persoalan administrasi, baik dari sisi legalitas maupun pencatatan keuangan, masih menjadi kendala utama yang membuat akses terhadap pembiayaan formal semakin sulit.

“UMKM menghadapi banyak tantangan. Pertama adalah tantangan struktural, mulai dari struktur UMKM yang seperti piramida terbalik, di mana jumlah usaha ultra mikro dan mikro jauh lebih banyak dibandingkan usaha menengah.” ujar Nur dalam diskusi virtual dilansir Kontan, Minggu (14/6/2026).

Dalam laporannya, UMKM menghadapi tekanan dari berbagai arah, mulai dari kenaikan BBM, struktur biaya platform digital, hingga monetisasi ekosistem e-commerce yang semakin membebani pelaku usaha. Menurutnya, daya saing UMKM di platform digital juga masih lemah ketika harus berhadapan dengan produk-produk impor.

Ia mengingatkan bahwa UMKM merupakan tulang punggung perekonomian nasional karena menyumbang sekitar 99,9% dari total unit usaha dan berkontribusi sekitar 59,6% terhadap produk domestik bruto (PDB). Namun, pelemahan daya beli masyarakat membuat pasar semakin sepi dan memperburuk kondisi pelaku usaha kecil.

“Bisa dilihat juga bahwa tantangan pembiayaan semakin besar. Kredit UMKM mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir dan pelaku UMKM juga menghadapi persoalan administrasi keuangan serta legalitas yang membuat mereka dianggap lebih berisiko oleh perbankan,” katanya.

Nur menilai rencana kenaikan harga BBM nonsubsidi hingga sekitar 32% berpotensi memberikan dampak langsung terhadap biaya operasional UMKM, terutama pada sektor-sektor yang sangat bergantung pada mobilitas.

“Dengan kenaikan BBM tersebut, dampaknya akan terasa pada biaya operasional, distribusi, dan pelayanan. Sektor yang paling terdampak adalah usaha jasa kurir, UMKM kuliner yang bergantung pada distribusi makanan, hingga usaha ritel kecil yang memiliki jaringan distribusi sendiri,” ujarnya.

Ia menilai tantangan terbesar berada pada pelaku usaha ultra mikro dan mikro yang masih membutuhkan dukungan lebih besar, baik dari sisi pembiayaan, kemudahan administrasi, maupun pendampingan digitalisasi.

“Keberlanjutan UMKM perlu didukung oleh ekosistem yang terintegrasi, mulai dari pembiayaan, ogistic, pencatatan keuangan hingga penguatan kapasitas usaha. Tanpa itu, target UMKM untuk naik kelas akan semakin sulit dicapai karena keterbatasan modal dan tingginya berbagai biaya yang harus ditanggung,” pungkas Nur.

**

Editor: Agung Ramadhan

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seputar ekonomi, bisnis, dan lainnya. Ayo terhubung, dan berdampak!

Related Articles

IndexKorporat

WhatsApp Ramai Diblokir, Waspadai Modus Pengambilalihan Akun

KONEQ.ID – Sejumlah pengguna WhatsApp mengalami pemblokiran akun dalam dua pekan terakhir....

IndexPemerintah

Gubernur Anwar Hafid Dorong Sulteng Jadi “Raja Durian Dunia”

KONEQ.ID – Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Anwar Hafid, berambisi menjadikan Sulteng sebagai...

IndexKorporat

The Gentlemen Klaim Rampok dan Miliki Data Digital Pertamina

KONEQ.ID – The Gentlemen merampok dan mengklaim kepemilikan data digital Pertamina, yang...

HumanioraIndex

Insiden Warga Palu Terlilit Kabel Internet: Telkom Siap Bertanggung Jawab

KONEQ.ID – Kabel jaringan internet yang semrawut dan melintang di badan jalan...