KONEQ.ID – Palu Mural Festival (PMF) kembali hadir menghidupkan ruang bagi karya seniman lokal dengan mengangkat tema “contemporary megalithic art”. Kegiatan ini berlangsung di area gedung bekas Lingkungan Industri Kecil (LIK) Roviga, Kota Palu, Sabtu (6/6/2026).
Rio Simatupang bersama sejumlah komunitas kolektif menginisiasi PMF 2026 sebagai upaya membaca warisan megalitik Sulawesi Tengah melalui bahasa visual masa kini.
“Bukan untuk mereplikasi, tetapi menggali nilai, simbol, dan misterinya. Lalu menerjemahkannya secara bebas sesuai karakter visual masing-masing seniman. Sehingga tercipta karya yang beragam, berakar pada lokalitas, namun relevan dengan konteks hari ini,” ungkap Rio.
PMF 2026 ini melibatkan 15 seniman mural, yang berkarya dengan berbagai perspektif dan karakter gambarnya masing-masing. Salah satunya Muhamad Syaifullah atau yang akrab disapa Narco secara konsisten memadukan gambar berkarakter Alien dan UFO sebagai bentuk identitas karyanya.
“Itu seperti pendekatan saya dengan dimensi-dimensi liar semesta. Kita semua punya pengalaman masa kecil untuk memilih cita-cita dan hal yang paling menarik bagi saya menjadi astronot,” ujar Narco.
Menurutnya, Astronot bukan sekedar cita-cita, tapi inspirasi untuk berkarya. Berbagai hal tentang luar angkasa menjadi misteri yang terus bertumbuh dalam berbagai bentuk cerita, pengetahuan, bahkan karya seni. Ia juga menjadikan kegiatan seni sebagai medium menyuarakan protes aksi sosial.
Seniman lainnya, Icon Todaga juga mengatakan bahwa mural adalah cerminan kebebasan seni yang memanfaatkan ruang publik untuk menyuarakan opini individu maupun kelompok.
“Gunakan tembok kota sebagai media untuk menyuarakan kritik sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang sering diabaikan. Karya ini tidak minta izin untuk bicara, karena baginya jalanan adalah ruang demokrasi paling jujur”, kata Icon.
Sementara itu, para pengunjung turut mengapresiasi pelaksanaan PMF 2026. Meski tidak terdapat biaya tiket masuk acara, tetapi juga tidak sedikit pengunjung yang hadir memberikan donasi secara sukarela.
Kegiatan yang digalang dengan semangat kolektif ini mengubah suasana gedung LIK yang ‘terbengkalai’ menjadi ruang pertunjukan seni dan pertemuan komunitas.
“Salut, banyak orang yang datang. Padahal akses ke sini lumayan, apalagi jauh dari pusat kota. Kegiatan begini seharusnya disupport”, ujar Muharam salah seorang pengunjung.
Selain eksebisi mural, PMF 2026 juga menghadirkan penampilan musik, pop up market, community gathering, serta talkshow yang membahas pengembangan karya visual ke pasar NFT.
Menutup pelaksanaan PMF 2026, Rio menyampaikan terima kasih atas keterlibatan seluruh pihak. Ia menilai kegiatan ini memperkuat gerakan kreatif, memperluas ekosistem seni rupa, serta membuka lebih banyak peluang kolaborasi lintas komunitas, generasi dan wilayah.
“Semoga festival ini juga dapat dimaknai sebagai ikhtiar bersama untuk merawat silaturahmi, mempererat persaudaraan, dan menjaga semangat gotong royong melalui bahasa seni yang inklusif, terbuka dapat dirasakan oleh semua kalangan,” pungkasnya.
**
Penulis: Agung Ramadhan


Leave a comment