Home EkoBiz Tantangan Industri Perhotelan Berlanjut di Tahun 2026
EkoBizIndex

Tantangan Industri Perhotelan Berlanjut di Tahun 2026

221
Ilustrasi. Kamar Grand Sya Hotel Palu (Sumber: Dok. Grand Sya Hotel)

Selain itu, PHRI juga mendorong pemerintah kembali menggerakkan pasar Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE), baik nasional maupun internasional. Aktivitas MICE dinilai menjadi penopang penting industri pariwisata di berbagai daerah, bukan hanya di destinasi utama seperti Bali dan Jakarta.

“Jadi kita tidak bisa melihatnya itu hanya menggunakan indikator peningkatan angka wisatawan mancanegara (wisman) saja karena kan yang menerima wisman terbesarnya cuma Bali dan Jakarta saja, sementara kita punya 500-an kabupaten dan kota yang sangat bergantung ekonominya dari pergerakan atau perjalanan wisatawan nusantara juga,” tutur Maulana.

Ia juga menyoroti mahalnya harga tiket pesawat yang dinilai menghambat pemerataan pergerakan orang antarwilayah. Sebagai negara kepulauan, transportasi udara menurutnya menjadi jembatan penting bagi mobilitas ekonomi.

Jika harga tiket tetap tinggi, pergerakan masyarakat berpotensi terus terkonsentrasi di Pulau Jawa, sehingga daerah lain sulit merasakan dampak ekonomi dari sektor pariwisata dan perjalanan. Dari sisi proyeksi okupansi 2026, PHRI menilai ruang pertumbuhan masih terbatas apabila program efisiensi anggaran dan pola belanja pemerintah tidak berubah.

Maulana menekankan, menggantikan pasar pemerintah bukanlah perkara mudah, karena tidak semua daerah memiliki daya tarik wisata yang cukup kuat untuk menopang perekonomian secara mandiri.

“Jadi ini menjadi satu PR besar bagi pemerintah bahwa faktanya negara kita memang belum siap untuk setiap daerah itu independen tanpa adanya bantuan dari APBN untuk menggerakkan ekonominya. Dan salah satu penggerak ekonominya itu adalah ya aktivitas pemerintah itu di setiap daerah,” imbuh Maulana.

PHRI juga mengingatkan, ekonomi daerah sangat erat kaitannya dengan pergerakan orang. UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional sebagian besar hidup dari aktivitas perjalanan, baik perjalanan bisnis maupun wisata. Selama mobilitas tersebut terhambat, pemulihan ekonomi daerah, termasuk sektor perhotelan, dinilai PHRI akan berjalan lambat.

Diversifikasi Pasar & Inovasi Produk Layanan

Arief Rahardjo, Director Strategic Consulting Cushman & Wakefield Indonesia, menaksir operator hotel pada tahun 2026 akan berfokus pada diversifikasi pasar dan inovasi produk layanan.

“Hotel-hotel yang sebelumnya berfokus pada tamu dari instansi pemerintah dan badan usaha milik negara kini meningkatkan layanan dan produk mereka untuk menarik tamu dari perusahaan swasta, asosiasi profesi, komunitas, dan partai politik,” ujar Arief.

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seputar ekonomi, bisnis, dan lainnya. Ayo terhubung, dan berdampak!

Related Articles

IndexKorporat

Emiten Pertamina Group “Tahan Banting” di Tengah Fluktuasi Pasar Modal

KONEQ.ID – Sejumlah perusahaan publik atau emiten dari Pertamina Group tampak “tahan...

IndexPemerintah

Wagub Sulteng Lantik Direktur RSUD Undata, Perkuat Layanan Kesehatan

KONEQ.ID – Wakil Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Reny A. Lamadjido, melantik dan...

EkoBizIndex

LPEM UI Anjurkan Penyesuaian Harga BBM Subsidi Hingga Pemberian BLT Rp140 T

KONEQ.ID – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) menganjurkan...

IndexKeuangan

Rilis APBN KiTa Ditunda, Pengamat: Keterbukaan Informasi Sebagai Kepercayaan Publik

KONEQ.ID – Keterbukaan informasi mengenai kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)...