Home Index APPI Ungkap Industri Pembiayaan Perketat Penyaluran Kredit Meski Kinerja Bertumbuh
IndexKeuangan

APPI Ungkap Industri Pembiayaan Perketat Penyaluran Kredit Meski Kinerja Bertumbuh

67
Ketua APPI Suwandi Wiratno. (Sumber: Zaenal/Infobank)

KONEQ.ID – Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno mengatakan perusahaan pembiayaan memperketat prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit.

Berkaitan dengan hal tersebut, akibatnya, menurut Suwandi membuat pertumbuhan pembiayaan belum mampu mengikuti pemulihan penjualan kendaraan bermotor yang menurut data Gaikindo telah meningkat sekitar 9 persen yoy.

“Kita mengalami satu krisis, yaitu krisis ketidakpastian hukum. Perusahaan pembiayaan akhirnya menerapkan asas prudensial yang lebih ketat,” ujarnya dilansir Infobanknews di Jakarta, Jumat (26/6/2026) lalu.

Sementara itu diketahui industri pembiayaan masih mencatat pertumbuhan positif pada April 2026. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), piutang pembiayaan neto mencapai Rp514,65 triliun, tumbuh 2,08 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Namun, di balik pertumbuhan tersebut, pelaku industri menghadapi tantangan yang dinilai semakin serius, yakni ketidakpastian hukum dalam pelaksanaan eksekusi jaminan fidusia.

Lebih lanjut, Suwandi menjelaskan persoalan muncul akibat semakin banyaknya anggapan bahwa perusahaan pembiayaan tidak dapat mengeksekusi objek jaminan fidusia tanpa putusan pengadilan. Padahal, hal tersebut dinilai bertentangan dengan prinsip eksekutorial yang dimiliki sertifikat fidusia.

“Kalau debitur berhenti membayar lalu kita melakukan eksekusi, justru kita yang disalahkan. Banyak yang mengatakan eksekusi harus melalui keputusan pengadilan,” ungkapnya.

Ia menilai kondisi ini diperparah oleh maraknya praktik jual beli kendaraan STNK only, sehingga kendaraan yang menjadi objek pembiayaan sering kali telah berpindah tangan ke pihak ketiga, bahkan hingga pihak keempat atau kelima.

“Lebih dari 95 persen kendaraan yang akan dieksekusi ternyata sudah berada di pihak ketiga,” jelasnya.

Meski demikian, kinerja industri masih menunjukkan daya tahan. Data OJK mencatat pembiayaan modal kerja menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 10,64 persen yoy menjadi Rp55,22 triliun, sementara laba industri meningkat 10,78 persen yoy menjadi Rp8,20 triliun hingga April 2026.

Sebaliknya, pembiayaan multiguna hanya tumbuh 2,39 persen yoy menjadi Rp258,73 triliun, mencerminkan masih tertahannya ekspansi pembiayaan konsumtif di tengah meningkatnya kehati-hatian pelaku industri.

**

Editor: Agung Ramadhan

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seputar ekonomi, bisnis, dan lainnya. Ayo terhubung, dan berdampak!

Related Articles

EkoBizIndex

Ekonomi Diprediksi Tumbuh 6 Persen di 2027, Menkeu Proyeksikan 2,4 juta Lapangan Kerja Baru

KONEQ.ID – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan 2,4 juta lapangan kerja...

IndexPemerintah

Sulteng Buka Peluang Kerja Sama Jerman di Sektor Pertanian hingga Mineral

KONEQ.ID – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Pemprov Sulteng) membuka peluang kerja sama...

HumanioraIndex

POPDA XXIV Sulteng 2026 Resmi Dimulai, Gubernur Tekankan Prestasi dan Sportivitas

KONEQ.ID – Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Anwar Hafid, secara resmi membuka Pekan...

IndexKeuangan

OJK Sebut Kontribusi Pindar Untuk UMKM Semakin Meningkat

KONEQ.ID – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut kontribusi Pinjaman Daring (Pindar/fintech lending)...