Home EkoBiz Kadin Soroti Sinyal Tekanan Daya Beli Kelas Menengah
EkoBizIndex

Kadin Soroti Sinyal Tekanan Daya Beli Kelas Menengah

11
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Analisis Kebijakan Makro-Mikro Ekonomi Aviliani. (Sumber: Katadata / Fauza)

KONEQ.ID – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyoroti sinyal melemahnya daya beli masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah.

Dilansir dari Katadata, Kadin mencermati bahwa kondisi saat ini terjadi penurunan jumlah masyarakat yang memiliki tabungan serta meningkatnya ketergantungan pada simpanan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Analisis Kebijakan Makro-Mikro Ekonomi Aviliani mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih berada di kisaran 5% saat ini terutama ditopang oleh kelompok masyarakat berpenghasilan menengah atas.

“Kenapa kita masih bisa tumbuh sekitar 5%? Karena yang konsumsi itu kelas menengah atas. Walaupun jumlahnya sedikit, mereka mendominasi hampir 65% dari total konsumsi,” ujar Aviliani dalam keterangannya dikutip, Jumat (5/6/2026).

Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi masih terjaga, tetapi manfaatnya belum dirasakan secara merata oleh masyarakat. Kesenjangan ekonomi justru semakin terlihat di tengah tekanan yang dihadapi kelompok berpendapatan menengah ke bawah.

Persoalan utama, menurutnya, bukan hanya sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi, melainkan mengurangi kesenjangan pendapatan dan memperkuat fondasi ekonomi masyarakat.

Aviliani juga mengungkapkan, data terbaru Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan jumlah rekening dengan saldo di bawah Rp100 juta mengalami penurunan signifikan, dari sekitar 3,1 juta rekening menjadi 1,7 juta rekening.

“Artinya masyarakat mulai makan tabungan. Ini yang berbahaya. Ketika tabungan habis sementara pendapatan terus turun, risikonya bisa memicu gejolak sosial,” katanya.

Menurut Aviliani, berbagai negara yang mengalami gejolak sosial umumnya menghadapi kondisi serupa, yakni ketika kelompok masyarakat memiliki akses informasi yang luas, tetapi pendapatannya terus menurun.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah dinilai perlu mendorong peningkatan kapasitas UMKM agar tidak hanya bertahan di level usaha subsisten. Selama ini, kata dia, sebagian besar UMKM di Indonesia belum mampu naik kelas meski jumlahnya mendominasi struktur usaha nasional.

“Selama ini kita selalu mengatakan 90% tenaga kerja ada di UMKM. Tetapi banyak UMKM yang tidak pernah naik kelas karena masih berada pada level subsisten,” ujarnya.

Aviliani mencontohkan negara seperti Korea Selatan, Thailand, dan Vietnam yang berhasil mengintegrasikan UMKM ke dalam rantai pasok industri besar maupun global value chain. Di Korea Selatan, sekitar 40% rantai nilai global berasal dari UMKM yang menjadi bagian dari ekosistem industri.

Karena itu, ia menilai kebijakan pengembangan UMKM tidak cukup hanya melalui akses pembiayaan atau kredit. Pemerintah juga perlu membuka akses pasar dan menciptakan permintaan yang berkelanjutan.

“Kalau hanya diberi kredit tetapi tidak ada permintaan, UMKM tidak akan hidup. Yang perlu diperkuat adalah sisi demand-nya,” kata Aviliani.

Ia mengusulkan agar program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat melibatkan lebih banyak UMKM sebagai bagian dari rantai pasok, sehingga manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha besar.

Menurutnya, integrasi UMKM ke dalam rantai pasok nasional maupun global akan meningkatkan skala usaha, memperluas pasar, serta memperkuat daya saing. Langkah tersebut juga dinilai menjadi salah satu cara efektif untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus mengurangi kesenjangan ekonomi.

“UMKM harus menjadi bagian dari supply chain, bukan berjalan sendiri-sendiri. Dengan begitu mereka bisa naik kelas, menyerap tenaga kerja lebih banyak, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif,” ujarnya.

**

Editor: Agung Ramadhan

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seputar ekonomi, bisnis, dan lainnya. Ayo terhubung, dan berdampak!

Related Articles

EkoBizIndex

UMKM Hadapi Tekanan Berlapis, INDEF: Tidak Hanya Jangka Pendek

KONEQ.ID – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kini tengah menghadapi berbagai...

IndexPemerintah

Indonesia-Jepang Pererat Hubungan Pertahanan: Pertukaran Intelijen Hingga Transfer Kapal

KONEQ.ID – Indonesia dan Jepang telah sepakat menjajaki kerja sama pertahanan yang...

IndexKorporat

BSN Perkuat Dukungan UMKM Naik Kelas Lewat Pesta Wirausaha Palu 2026

KONEQ.ID – Bank Syariah Nasional (BSN) terus berkomitmen mewujudkan dukungan terhadap pertumbuhan...

HumanioraIndex

Diah Agustiningsih Targetkan PSRP Sulteng Raih Predikat Emas di Pesparawi ke-XIV

KONEQ.ID – Ketua Lembaga Pengembangan Pesta Paduan Suara Gerejawi Daerah (LPPD) Provinsi...