KONEQ.ID – Hannah Asa Indonesia menggelar diskusi untuk mendorong mahasiswa dalam upaya meningkatkan literasi keuangan digital, yang juga dibarengi dengan strategi komunikasi bagi kreator konten digital, berlangsung di Hannah Homestay, Selasa (31/3/2026).
Kegiatan yang bertajuk Financial Literacy & Communication Strategy for Creators ini berkolaborasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulteng, Bursa Efek Indonesia (BEI) Sulteng, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tadulako, serta komunitas fotografi Instanusantara.
Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, mengatakan bahwa program ini dirancang untuk memberikan edukasi yang terintegrasi, praktis, dan berdampak bagi mahasiswa.
“Kita bisa melihat bahwa antusiasme peserta cukup tinggi, dengan jumlah lebih dari 150 orang dan kami melihat bahwa komunitas Hannah Asa Indonesia dapat memimpin gerakan untuk Indonesia Timur dan kami berharap dari Sulteng kami dapat mengajar di seluruh wilayah Indonesia Timur,” ucapnya
Ia juga berharap kegiatan ini dapat menjadi bukti bahwa anak muda di Sulawesi Tengah memiliki keinginan untuk memperbaiki kondisi keuangan yang mungkin sebelumnya kurang tepat.
Adapun pemaparan dari kolaborator yang juga pemateri menyampaikan berbagai pandangan serta pengalamannya masing-masing.
Adam Novriansyah, yang menangai bidang PEPK dan LMST di OJK Sulteng, menyampaikan ini sangat mendukung perkembangan kinerja OJK di bidang literasi. Ia berharap ke depan semakin baik serta mampu mempercepat peningkatan tingkat literasi dan inklusi keuangan.
“Kegiatan ini sangat baik karena menghadirkan narasumber dari bidang industri keuangan dan juga dari kampus, ini merupakan kombinasi edukasi yang sangat bagus,” katanya.
Lebih lanjut Adam menekankan, penting bagi mahasiswa untuk meningkatkan literasi digital agar terhindar dari investasi ilegal, judi online, serta pinjaman ilegal yang banyak menyasar anak muda, khususnya mahasiswa.
Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Untad, Stepanus Bo’do menyampaikan, bahwa literasi keuangan sangat penting untuk memastikan keberlanjutan kerja-kerja kreatif seperti yang dilakukan oleh kreator konten digital.
Sementara itu, Achmad Herman menambahkan, bahwa literasi keuangan adalah tentang merencanakan apa yang ingin dicapai dan dirasakan lima tahun ke depan. Menurutnya, gambaran masa depan tidak hanya dipikirkan, tetapi harus mulai diwujudkan dari sekarang.
“Jika kita tidak mampu merencanakan sejak saat ini, maka akan sulit memperoleh hasil di masa depan,” tandasnya.
**
Penulis: Retno T Rerung | Editor: Agung Ramadhan

Leave a comment