Home Humaniora Kemenbud Kunjungi PWI Sulteng: Persiapan Temu Narasi Syekh Yusuf Al-Makassari
HumanioraIndex

Kemenbud Kunjungi PWI Sulteng: Persiapan Temu Narasi Syekh Yusuf Al-Makassari

90
Tim Kemenbud dan Pengurus PWI Sulteng. (Foto: PWI Sulteng)

Keberadaan komunitas pedagang dan ulama dari luar daerah di Wani menunjukkan bahwa pelabuhan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ruang ekonomi, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan sosial dan keagamaan.

Penelitian mengenai jaringan orang Arab di Teluk Palu, misalnya, mencatat keberadaan komunitas Arab di Wani sejak pertengahan abad ke-19. Mereka datang sebagai pedagang dan sebagian juga berperan dalam penyebaran ajaran Islam.

Dengan posisi tersebut, Donggala dan Wani dapat dilihat sebagai simpul penghubung dalam jaringan maritim yang mempertemukan jalur Makassar dan Manado dengan kawasan Teluk Palu.

Posisi geografis dan aktivitas pelabuhan tersebut membuka ruang bagi mobilitas bukan hanya komoditas, tetapi juga orang, pengetahuan, gagasan keagamaan dan jaringan intelektual Islam.

Dalam diskusi tersebut, konteks jalur maritim ini kemudian dikaitkan dengan kemungkinan menelusuri hubungan intelektual dan keagamaan yang lebih luas di sekitar jaringan Syekh Yusuf Al-Makassari.

Dengan demikian, pembahasan mengenai Syekh Yusuf tidak hanya ditempatkan dalam batas-batas wilayah administratif saat ini, tetapi juga dalam ruang maritim yang memungkinkan berlangsungnya perpindahan ulama, mubalig, pedagang dan komunitas Muslim antarpelabuhan.

Selain itu, pertemuan membahas hubungan antara ajaran tarekat yang dibawa Syekh Yusuf Al-Makassari dengan keberadaan komunitas masyarakat asal Cikoang di Palu dan sekitarnya. Komunitas tersebut diketahui sebagian masih menerapkan ajaran tarekat, antara lain Khalwatiyah, Naqsabandiyah dan Qadiriyah.

Pihak PWI Sulteng juga menjelaskan mengenai tiga fase penyebaran Islam di Sulawesi Tengah. Fase pertama ditandai dengan kedatangan mubalig asal Minangkabau, Dato Karama. Fase kedua merupakan penyebaran Islam oleh mubalig asal Bugis, Makassar dan Mandar.

Kemudian fase ketiga ditandai dengan penyebaran Islam oleh Sayyid Idrus bin Salim Aljufri atau Guru Tua, serta berkembangnya organisasi Islam seperti Muhammadiyah.

Paparan mengenai tradisi lisan, jaringan intelektual Islam, jalur pelayaran Selat Makassar, posisi Donggala dan Wani, komunitas Cikoang serta perkembangan tarekat tersebut, menjadi bagian dari penghimpunan informasi dan diskusi untuk mendukung persiapan Temu Narasi: Syekh Yusuf Al-Makassari di Sulawesi Tengah.

**

Editor: Agung Ramadhan

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seputar ekonomi, bisnis, dan lainnya. Ayo terhubung, dan berdampak!

Related Articles

EkoBizIndex

Ekonomi Diprediksi Tumbuh 6 Persen di 2027, Menkeu Proyeksikan 2,4 juta Lapangan Kerja Baru

KONEQ.ID – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan 2,4 juta lapangan kerja...

IndexPemerintah

Sulteng Buka Peluang Kerja Sama Jerman di Sektor Pertanian hingga Mineral

KONEQ.ID – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Pemprov Sulteng) membuka peluang kerja sama...

HumanioraIndex

POPDA XXIV Sulteng 2026 Resmi Dimulai, Gubernur Tekankan Prestasi dan Sportivitas

KONEQ.ID – Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Anwar Hafid, secara resmi membuka Pekan...

IndexKeuangan

OJK Sebut Kontribusi Pindar Untuk UMKM Semakin Meningkat

KONEQ.ID – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut kontribusi Pinjaman Daring (Pindar/fintech lending)...