Home EkoBiz Penjualan Motor 2025 Naik 1,2 Persen, AISI Target 6,7 Juta Unit di 2026
EkoBizIndex

Penjualan Motor 2025 Naik 1,2 Persen, AISI Target 6,7 Juta Unit di 2026

104
Pabrik Motor Honda di Indonesia (Sumber: Dok. Astra/Honda)

KONEQ.ID – Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menyebutkan, penjualan kendaraan roda dua (motor) di sepanjang tahun 2025 tercatat sebesar 6,41 juta unit atau naik 1,25% dibandingkan dengan tahun lalu, yakni sebesar 6,33 juta unit.

Sementara itu, ekspor Completely Built Up (CBU) di tahun 2025 justru anjlok. Tahun lalu, penjualan motor mencapai 544 ribu unit atau turun 4,9% dibandingkan penjualan di tahun 2024 sebesar 572 ribu. Sedangkan, ekspor Completely Knocked Down (CKD) mencapai 8,13 juta unit. Lalu, ekspor part by part mencapai  angka 138 juta unit.

CBU merupakan kendaraan yang diimpor langsung dari negara pembuatnya dalam kondisi utuh, lengkap, dan sudah terakit sepenuhnya atau siap pakai, bukan dalam bentuk komponen terpisah. Berbeda dengan CKD yang diimpor dalam bentuk komponen untuk dirakit di dalam negeri.

Di tahun ini, AISI telah mematok target penjualan sepeda motor secara nasional di kisaran angka 6,4 juta unit hingga 6,7 juta unit.

Ketua Bidang Komersial AISI Sigit Kumala mengatakan target tersebut bersifat moderat, atau setara dengan sasaran yang dibidik pada tahun sebelumnya. Dengan demikian, peluang pencapaiannya dinilai cukup rasional.

“Kami sudah pasang target, angkanya berkisar 6,4 juta sampai 6,7 juta unit di 2026. Betul, sama dengan tahun 2025,” ujar Sigit dilansir dari Bisnis, Kamis (8/1/2026).

Sigit menjelaskan, ada beberapa faktor yang mendorong pasar kendaraan roda dua tetap resilien. Di antaranya, dukungan dari lembaga pembiayaan (leasing) yang memudahkan dalam penyaluran kredit sepeda motor.

Selain itu, sejumlah Pemerintah Daerah (Pemda) juga memutuskan untuk menunda penerapan opsen pajak sehingga mengurangi beban pajak konsumen yang membeli kendaraan bermotor.

Meski demikian, ia menegaskan keberlanjutan pertumbuhan pasar sepeda motor pada 2026 sangat ditentukan faktor makroekonomi. Pertumbuhan ekonomi stabil di atas 5% dan penurunan suku bunga kredit menjadi kunci untuk mengembalikan daya beli kelas menengah.

“Kami sangat berharap pertumbuhan ekonomi ini benar-benar bisa dirasakan dampaknya. Karena kalau pertumbuhan ekonomi ini melambat, ya kami berpotensi untuk tidak mencapai target tersebut,” pungkasnya.

(kq/gx)

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seputar ekonomi, bisnis, dan lainnya. Ayo terhubung, dan berdampak!

Related Articles

IndexKorporat

Emiten Pertamina Group “Tahan Banting” di Tengah Fluktuasi Pasar Modal

KONEQ.ID – Sejumlah perusahaan publik atau emiten dari Pertamina Group tampak “tahan...

IndexPemerintah

Wagub Sulteng Lantik Direktur RSUD Undata, Perkuat Layanan Kesehatan

KONEQ.ID – Wakil Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Reny A. Lamadjido, melantik dan...

EkoBizIndex

LPEM UI Anjurkan Penyesuaian Harga BBM Subsidi Hingga Pemberian BLT Rp140 T

KONEQ.ID – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) menganjurkan...

IndexKeuangan

Rilis APBN KiTa Ditunda, Pengamat: Keterbukaan Informasi Sebagai Kepercayaan Publik

KONEQ.ID – Keterbukaan informasi mengenai kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)...