Home EkoBiz Apindo Sebut 4 Faktor Utama Bikin Usaha Dalam Negeri Kurang Kompetitif
EkoBizIndex

Apindo Sebut 4 Faktor Utama Bikin Usaha Dalam Negeri Kurang Kompetitif

150
Bloomberg Technoz Economic Outlook 2026 di Jakarta. (Sumber: Bloomberg/Andrean)

KONEQ.ID – Anggota Bidang Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Ajib Hamdani, menyebut ada empat faktor utama yang membuat daya saing dunia usaha dalam negeri menjadi kurang kompetitif, sehingga masih tertinggal dibanding negara lain.

Ajib menjelaskan terdapat empat persoalan mendasar tersebut yang membuat dunia usaha menghadapi biaya tinggi atau high cost economy. Produk Indonesia bahkan saat ini tidak hanya bersaing dengan produk China dan Vietnam, melainkan Kamboja dan Thailand.

“Artinya kompetitiveness-nya kita itu punya problem, kita capture ada 4 hal utama yang membuat kita adanya high cost economy,” kata Ajib dalam Bloomberg Technoz Economic Outlook 2026, dikutip Kamis (12/2/2026).

Pertama, biaya logistik. Ajib menyebut porsi biaya logistik di Indonesia masih berada di kisaran 14–18% terhadap produk domestik bruto, lebih tinggi dibanding negara lain yang berada di level 8–10%. Tingginya ongkos logistik dinilai membebani harga pokok produksi dan harga jual barang.

Kedua, biaya energi yang dinilai masih mahal dibanding negara pesaing seperti Vietnam.

Ketiga, tingginya cost of fund. Ajib mengatakan suku bunga pinjaman bagi pelaku usaha untuk ekspansi maupun belanja modal berkisar 8–14%. Sementara untuk kredit konsumsi, termasuk kredit perumahan dengan skema bunga mengambang, dapat mencapai 14–16%.

Keempat, kualitas sumber daya manusia. Ia menilai produktivitas dan daya saing tenaga kerja Indonesia masih perlu ditingkatkan.

Ajib menyatakan keempat faktor tersebut memerlukan intervensi pemerintah agar tercipta ekonomi berbiaya rendah. Dengan biaya yang lebih efisien, barang dan jasa produksi dalam negeri dinilai akan lebih mampu bersaing, baik di tingkat Asia maupun global.

Selain itu menurutnya, struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih ditopang konsumsi rumah tangga lebih dari 53%. Dengan kondisi tersebut, pertumbuhan secara alamiah berada di kisaran 4%. Namun untuk mencapai level 5% hingga 6% seperti yang ditargetkan pemerintah, dibutuhkan intervensi yang tepat sasaran melalui kebijakan fiskal dan moneter.

(kq/gx)

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Seputar ekonomi, bisnis, dan lainnya. Ayo terhubung, dan berdampak!

Related Articles

EkoBizIndex

Ekonomi Diprediksi Tumbuh 6 Persen di 2027, Menkeu Proyeksikan 2,4 juta Lapangan Kerja Baru

KONEQ.ID – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan 2,4 juta lapangan kerja...

IndexPemerintah

Sulteng Buka Peluang Kerja Sama Jerman di Sektor Pertanian hingga Mineral

KONEQ.ID – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Pemprov Sulteng) membuka peluang kerja sama...

HumanioraIndex

POPDA XXIV Sulteng 2026 Resmi Dimulai, Gubernur Tekankan Prestasi dan Sportivitas

KONEQ.ID – Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Anwar Hafid, secara resmi membuka Pekan...

IndexKeuangan

OJK Sebut Kontribusi Pindar Untuk UMKM Semakin Meningkat

KONEQ.ID – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut kontribusi Pinjaman Daring (Pindar/fintech lending)...