KONEQ.ID – Bank Indonesia (BI) bersama Asosiasi Sistem Pembayaran Nasional (ASPI) meluncurkan Kartu Kredit Indonesia (KKI) sebagai inovasi industri sistem pembayaran domestik. Peluncuran dilakukan di momen HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI menyampaikan, kehadiran instrumen ini memperkuat ekonomi keuangan digital nasional melalui peningkatan efisiensi transaksi, perluasan inklusivitas penyelenggara dan pengguna, serta penguatan daya saing pelaku usaha.
“Penguatan ekosistem sistem pembayaran yang semakin efisien dan inklusif diharapkan dapat mendukung aktivitas ekonomi masyarakat yang turut berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” katanya dalam keterangan tertulis di laman resmi BI, Senin (17/8/2026).
Sementara itu, Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Ryan Rizaldy mengatakan, KKI ritel ini dihadirkan untuk menjangkau kalangan pengguna pembayaran kredit di kalangan anak muda yang kian mendominasi lanskap transaksi non-tunai.
“Paling tidak pangsa masyarakat yang saat ini memang akhir-akhir ini terutama yang digerakkan oleh generasi Z dan generasi milenial, pengguna sumber dana kredit ini bisa masuk ke dalam KKI segmen ritel ini,” ujar Ryan dilansir CNN Indonesia.
Ryan menjelaskan, pada tahap awal, KKI diterbitkan dalam bentuk kartu digital untuk transaksi QRIS pindai (scan) maupun QRIS nirsentuh (tap). Ia menambahkan pengembangan KKI secara bertahap, mulai dari fitur pembayaran QRIS, disusul pembayaran daring (online payment), hingga penerbitan kartu fisik.
Pada tahap perdana, peluncuran KKI digarap oleh sejumlah Penyelenggara Jasa Pembayaran (PJP), yakni BCA, Bank Mandiri, BNI, BRI, CIMB Niaga, Permata Bank, Bank Mega, serta BSI untuk skema pembiayaan syariah.
Dalam kesempatan sama, Pejabat Sementara Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan, kehadiran KKI ritel merupakan wujud kedaulatan sistem pembayaran nasional, sekaligus omesticv penopang daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Destry menyebut, implementasi KKI sebagai omesticve omesticv deferred payment omestic yang efisien, pruden, dan terintegrasi dengan infrastruktur omest pembayaran nasional.
“Kehadiran skema omestic ini memberikan ruang yang lebih luas bagi pelaku usaha untuk masuk dalam ekosistem digital dan menyediakan omesticve fasilitas kredit untuk menopang konsumsi masyarakat,” tutur Destry.
Sementara itu, Ketua ASPI Santoso Liem memproyeksikan, kehadiran KKI yang terhubung dengan QRIS berpotensi menggeser porsi transaksi kartu kredit konvensional ke skema omestic hingga 10 persen. Saat ini, pangsa pasar kartu kredit di industri tercatat tersisa sekitar 15 persen seiring pesatnya adopsi QRIS.
“Jadi kita harapkan dengan kartu kredit KKI ini sudah mulai di-introduce dengan QRIS, kita harapkan di antara 15 persen itu, mungkin 10 persen akan pindah,” jelas Santoso.
**
Editor: Agung Ramadhan












Leave a comment