KONEQ.ID – Saham bank berkapitalisasi besar alias big banks kompak menguat dengan bertengger di zona hijau saat penutupan perdagangan di pasar modal pada akhir pekan ini, Jumat (10/4/2026).
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas menyebut pergerakan nilai tukar rupiah mempengaruhi penguatan tersebut.
Dilansir dari Kontan, melihat perdagangan sepekan terakhir, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatatkan pertumbuhan paling tinggi. Kemudian, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).
Harga saham BBRI pekan ini ditutup pada level Rp 3.390 per saham atau naik 2,11% bila dibandingkan penutupan pekan lalu. Selanjutnya saham BBCA ditutup pada harga Rp 6.700 per saham atau naik 1,90% secara mingguan. Titik harga tertinggi BBCA pekan ini tercatat pada perdagangan Rabu (8/10/2026), yaitu di Rp 6.775.
Sementara itu, BBNI tercatat naik 0,81% secara mingguan dengan ditutup pada harga Rp 3.730. Terakhir, BMRI ditutup pada harga Rp 4.670 per saham, naik 0,43% secara mingguan.
Kenaikan harga saham big banks pekan ini juga dibarengi dengan tekanan jual bersih atau net sell dari investor asing yang mereda. Hal ini dapat terlihat pada aktivitas investor asing pada perdagangan Jumat (10/4/2026).
Kemudian seluruh saham big banks, kecuali BBRI, kompak mencatat net buy dari asing. Adapun BBCA mengalami net buy paling besar hari ini, yaitu senilai Rp 302 miliar.
Analisis Mirae Sekuritas
Dari sumber berita Kontan, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta sebelumnya telah memprediksi pergerakan saham big banks pekan ini. Ia sudah menyebut tekanan harga pada saham big banks akan segera melandai.
Nafan menilai, harga saham big banks pekan ini sangat dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar rupiah. Ia menyebut saham big banks pekan lalu mengalami koreksi yang cukup dalam akibat momentum nilai tukar rupiah yang tembus Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat.
Akan tetapi, Nafan menyebut tekanan harga ini akan cepat mereda jika Bank Indonesia (BI) mengambil tindakan cepat untuk kembali menguatkan rupiah. Jika investor asing menilai Indonesia secara cepat tanggap dapat mengatasi pelemahan rupiah, maka mereka akan mulai kembali mengakumulasi.
“Adapun pelemahan rupiah ke kisaran Rp 17.100 per dolar ASseharusnya menjadi sinyal yang kuat bagi BI untuk melakukan intervensi secara agresif demi menjaga stabilitas nilai tukar melalui pasar spot ataupun pasar DNDF,” kata Nafan dikutip dari Kontan.
Kalau nilai tukar rupiah berhasil kembali menguat, menurut Nafan, harga dari saham big bank berpotensi akan mengalami rebound.
**
Penulis: Agung Ramadhan

Leave a comment