Minggu , 12 April 2026
Home Index Pasar Saham RI Dinilai Lebih Prospektif di 2026, Dana Asing Mulai Balik Arah
IndexKeuangan

Pasar Saham RI Dinilai Lebih Prospektif di 2026, Dana Asing Mulai Balik Arah

81
Ilustrasi perdagangan saham melalui ponsel. (Sumber: Shutterstock)

KONEQ.ID – Pasar saham Indonesia berpeluang mencatatkan kinerja yang lebih prospektif di 2026, seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi domestik serta potensi pelonggaran likuiditas global. Hal ini diproyeksikan oleh Insight Investments Management (IIM) yang menilai dana asing mulai balik arah.

Optimisme tersebut muncul setelah pasar modal sepanjang 2025 bergerak dalam volatilitas tinggi akibat dinamika arus dana asing dan tekanan kinerja laba emiten.

IIM mencatat, sepanjang 2025 arus dana asing sempat mengalami tekanan signifikan dengan outflow mencapai Rp54 triliun pada September 2025, terutama pada saham berkapitalisasi besar di sektor keuangan dan konsumer.

Namun, sentimen pasar mulai berbalik positif pada Oktober hingga November 2025, ditandai dengan kembalinya inflow asing sekitar Rp25 triliun ke pasar saham domestik.

Dari sisi fundamental, kinerja laba emiten yang tergabung dalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mengalami kontraksi sekitar 9 persen sepanjang sembilan bulan pertama 2025. Meski demikian, pergerakan indeks justru menunjukkan ketahanan yang kuat.

“Hingga penutupan Desember 2025, IHSG naik 22,1 persen ke level 8.646. Penguatan ini terutama didorong oleh saham-saham konglomerasi seperti DSSA, DCII, BRPT, TLKM, ASII, dan BRMS,” ujar Direktur PT Insight Investments Management, Camar Remoa dalam paparan Market Outlook 2026, dikutip dari IDX Channel, Minggu (18/1/2026).

Sebaliknya, saham-saham big cap tradisional, khususnya perbankan yang mendominasi indeks LQ45 dan SRI Kehati, mencatatkan kenaikan yang relatif terbatas. Indeks LQ45 hanya menguat 2,41 persen, sementara SRI Kehati naik 2,02 persen sepanjang 2025.

Memasuki 2026, Camar menilai pemulihan ekonomi domestik yang semakin solid berpotensi menjadi katalis utama bagi pasar saham. Pulihnya daya beli masyarakat diperkirakan akan mendorong perbaikan kinerja emiten, sekaligus membuka ruang bagi investor untuk kembali memburu peluang pertumbuhan di bursa.

Selain faktor domestik, peluang liquidity easing global juga menjadi sentimen positif. Tren penurunan suku bunga serta potensi kebijakan Quantitative Easing di Amerika Serikat dinilai dapat memperbaiki ekspektasi pertumbuhan ekonomi global dan mendorong aliran modal asing masuk ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Likuiditas yang lebih longgar berpotensi meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk pasar saham dan reksa dana berbasis saham,” kata Camar.

Meski prospek 2026 dinilai lebih positif, IIM tetap menekankan pentingnya strategi investasi yang disiplin dan terdiversifikasi. “Disiplin dalam alokasi aset dan pemilihan instrumen yang tepat akan menjadi kunci bagi investor dalam menghadapi dinamika pasar pada 2026,” pungkas Camar.

(kq/gx)

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

IndexKorporat

BSN Palu Dialog dengan Media Lokal, Dorong Penguatan Keuangan Syariah

KONEQ.ID – Bank Syariah Nasional (BSN) Palu melakukan dialog dengan media lokal...

IndexKeuangan

Saham Big Banks Menguat di Akhir Pekan, Analis: Pengaruh Nilai Tukar Rupiah

KONEQ.ID – Saham bank berkapitalisasi besar alias big banks kompak menguat dengan...

IndexPemerintah

HUT ke-24 Parigi Moutong, Gubernur Sulteng Ajak Perkuat Komitmen Bangun Daerah

KONEQ.ID – Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Anwar Hafid, memperingati perayaan Hari Ulang...

IndexKorporat

Garuda Indonesia Audiensi Ke Pemkot Palu, Dorong Kolaborasi Dukungan Penerbangan

KONEQ.ID – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Branch Office Palu melakukan audiensi...