KONEQ.ID – Sulawesi Tengah dikenal sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alam dari berbagai sektor seperti pertanian, perkebunan, perikanan, hasil hutan, hingga pertambangan. Semua sektor ini dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan dan dipasarkan ke luar negeri.
Namun, saat ini ekspor Sulawesi Tengah masih didominasi oleh sektor tambang. Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulteng, Fajar Setiawan mengungkapkan, bahwa lebih dari 90 persen ekspor daerah berasal dari hasil olahan tambang seperti bijih besi, nikel, dan migas.
Fajar menekankan bahwa potensi ekspor Sulteng tidak hanya terbatas pada sektor tambang. Komoditas lain seperti kelapa dan kakao dari sektor perkebunan, durian dan jagung dari sektor pertanian, perikanan tangkap dan budidaya, serta hasil hutan seperti kayu, rotan, dan gula aren juga sangat menjanjikan untuk pasar ekspor.
“Untuk Sulawesi Tengah sendiri, komoditas ekspor unggulan seperti turunan kelapa, produk perikanan, hingga nikel dan durian menjadi andalan yang selama ini banyak masuk ke pasar AS,” kata Fajar kepada eqozmedia, Jumat (11/4/2025).
Sebagai bagian dari upaya mendorong ekspor non-tambang, Disperindag Sulteng telah menjalankan berbagai strategi. Selain pelatihan industri dan pendampingan sertifikasi, pihaknya juga meluncurkan inovasi Klinik Ekspor Sulteng.
“Melalui Klinik Ekspor ini, kami bisa memberikan informasi yang luas kepada masyarakat baik pelajar, mahasiswa, pelaku usaha, maupun masyarakat umum terkait prosedur ekspor, coaching, serta informasi pasar ekspor,” jelas Fajar.
Namun demikian, ia juga menyoroti adanya tantangan besar dalam aspek logistik. Banyak komoditas dari Sulawesi Tengah harus terlebih dahulu dikirim ke pelabuhan besar di Pulau Jawa sebelum bisa diekspor, yang tentunya menambah waktu dan biaya.
“Kemarin kita sudah upaya supaya bisa ekspor langsung dari Sulawesi Tengah. Upaya berikutnya mudah-mudahan ada kapal internasional yang langsung merapat di Pantoloan. Kita bisa ekspor langsung dari sini,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa konektivitas logistik yang kuat menjadi kunci penting untuk memperlancar arus ekspor dari daerah. Dengan adanya jalur ekspor langsung, diharapkan volume ekspor dari Sulawesi Tengah bisa meningkat signifikan.
“Kalau ekspor, tentu harapannya banyak. Pertama, ekspornya harus meningkat. Nah, bagaimana caranya ekspor kita meningkat ini? Salah satunya ya dengan membuka jalur ekspor langsung dari Sulawesi Tengah,” tegasnya.
Fajar Setiawan menyoroti bahwa tantangan utama produk unggulan Sulawesi Tengah untuk menembus pasar global berkaitan dengan tiga aspek penting yaitu K3 (Kualitas, Kuantitas, dan Kontinuitas), serta sarana transportasi pengiriman yang masih menjadi kendala di berbagai daerah penghasil.
Fajar menutup dengan menyampaikan optimisme bahwa komoditas unggulan daerah seperti durian, udang vaname, dan kelapa akan semakin kompetitif di pasar global jika didukung oleh konektivitas, strategi ekspor yang tepat, serta sinergi antar-pemangku kepentingan.
(kq/rn)
Leave a comment