Home EkoBiz Survei LPEM FEB UI Menilai Ekonomi Indonesia Cenderung Memburuk
EkoBizIndex

Survei LPEM FEB UI Menilai Ekonomi Indonesia Cenderung Memburuk

40
Survei LPEM FEB UI Menilai Ekonomi Indonesia Cenderung Memburuk Balai Purnomo Prawiro Kampus UI Depok Koneq Media Integra Agung Ramadhan
Balai Purnomo Prawiro, Kampus UI Depok. (Sumber: Dok. FEB UI)

Rahma juga menuturkan bahwa saat ini pemerintah sedang berhadapan dengan tantangan besar untuk membuktikan bahwa target pertumbuhan 5,4% – 5,6% tidak sekadar angka di atas kertas.

Rekomendasi

Menurut Rahma, survei tersebut menunjukkan kalangan ekonom masih gamang terhadap efektivitas kebijakan saat ini saat menyentuh akar masalah. Hal yang menjadi sorotan terkait efektivitas anggaran besar untuk program-program baru benar-benar menciptakan efek pengganda (multiplier effect) ke ekonomi riil, atau hanya habis untuk konsumsi jangka pendek.

“Pesimisme yang konsisten selama 18 bulan menunjukkan adanya sumbatan dalam struktur ekonomi kita. Masalahnya bukan lagi tentang kapan badai berlalu, tetapi tentang upaya memperbaiki kapalnya agar bisa melaju lebih cepat,” kata Rahma.

Bila stagnasi berlanjut, maka pemerintah harus melakukan intervensi untuk mengatasi akar masalah struktural dan pelemahan daya beli kelas menengah. Langkah pertama yang dapat dilakukan yaitu menjalankan intervensi fiskal melalui relaksasi untuk kelas menengah, mengingat kelas menengah adalah motor konsumsi yang saat ini paling tertekan.

“Pemerintah perlu memberikan nafas tambahan melalui dengan menunda rencana kenaikan PPN (Pajak Pertambahan Nilai) agar dapat mencegah penurunan konsumsi rumah tangga lebih dalam,” tegas Rahma.

Kedua yaitu, menjaga sektor riil dengan menjaga kelanjutan dunia usaha. Untuk mencegah stagnasi bisnis berubah menjadi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), maka diperlukan pertama  pemerintah harus melakukan intervensi pada biaya-biaya pelabuhan dan transportasi yang berada di bawah kendali negara  untuk mengompensasi kenaikan harga energi global.

“Mendorong Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan untuk memberikan relaksasi bobot risiko bagi kredit ke sektor manufaktur dan usaha mikro kecil dan menengah yang berorientasi ekspor atau substitusi impor,” tandas Rahma.

Ketiga yaitu, menjaga kepercayaan pasar. Dalam hal ini pemerintah harus menjalankan komunikasi kebijakan secara konsisten.

“Ketidakpastian mengenai arah fiskal di tengah harga minyak yang tinggi sering kali lebih menakutkan bagi investor daripada angka defisit itu sendiri,” tutupnya.

**

Penulis: Agung Ramadhan

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

OJK BEI dan KSEI Tuntanskan Empat Agenda Reformasi Transparansi Pasar Modal Indonesia Koneq Media Integra
KorporatIndex

Perubahan Kebijakan Saham Free Float dan Tata Kelola Perusahaan Mulai Berlaku

Selain itu, SK ini juga mengatur pengungkapan kepemilikan saham karyawan yang dibatasi,...

Menteri Agraria dan Tata Ruang ATR BPN Nusron Wahid di UIN Datokarama Palu Koneq Media Integra Agung Ramadhan
PemerintahIndex

Menteri ATR/BPN Sebut Sulteng Baru Capai 27 Persen Sertifikasi Tanah Wakaf

KONEQ.ID –  Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR/BPN) Nusron Wahid mengungkap sertifikasi...

Efendi Lakada Resegmentasi Bisnis Hotel BW Plus Coco Palu Siasati Dampak Kebijakan Anggaran Pemerintah Agung Ramadahan Koneq Media Integra
KorporatIndex

Resegmentasi Bisnis, Hotel BW Plus Coco Palu Siasati Dampak Kebijakan Anggaran

“Kita konsen ke bidang FnB karena tidak bisa dihindari seperti perjalanan dinas...

Archipelago International Hotel Aston Palu Sajikan Autentik Street Food Seoul Koneq Media Integra Hotel Aston Palu Sijeuni Palu
KorporatIndex

Archipelago International-Hotel Aston Palu Sajikan Autentik Street Food Seoul

KONEQ.ID – Hotel Aston Palu menyajikan cita rasa autentik street food Seoul,...