Rahma juga menuturkan bahwa saat ini pemerintah sedang berhadapan dengan tantangan besar untuk membuktikan bahwa target pertumbuhan 5,4% – 5,6% tidak sekadar angka di atas kertas.
Rekomendasi
Menurut Rahma, survei tersebut menunjukkan kalangan ekonom masih gamang terhadap efektivitas kebijakan saat ini saat menyentuh akar masalah. Hal yang menjadi sorotan terkait efektivitas anggaran besar untuk program-program baru benar-benar menciptakan efek pengganda (multiplier effect) ke ekonomi riil, atau hanya habis untuk konsumsi jangka pendek.
“Pesimisme yang konsisten selama 18 bulan menunjukkan adanya sumbatan dalam struktur ekonomi kita. Masalahnya bukan lagi tentang kapan badai berlalu, tetapi tentang upaya memperbaiki kapalnya agar bisa melaju lebih cepat,” kata Rahma.
Bila stagnasi berlanjut, maka pemerintah harus melakukan intervensi untuk mengatasi akar masalah struktural dan pelemahan daya beli kelas menengah. Langkah pertama yang dapat dilakukan yaitu menjalankan intervensi fiskal melalui relaksasi untuk kelas menengah, mengingat kelas menengah adalah motor konsumsi yang saat ini paling tertekan.
“Pemerintah perlu memberikan nafas tambahan melalui dengan menunda rencana kenaikan PPN (Pajak Pertambahan Nilai) agar dapat mencegah penurunan konsumsi rumah tangga lebih dalam,” tegas Rahma.
Kedua yaitu, menjaga sektor riil dengan menjaga kelanjutan dunia usaha. Untuk mencegah stagnasi bisnis berubah menjadi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), maka diperlukan pertama pemerintah harus melakukan intervensi pada biaya-biaya pelabuhan dan transportasi yang berada di bawah kendali negara untuk mengompensasi kenaikan harga energi global.
“Mendorong Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan untuk memberikan relaksasi bobot risiko bagi kredit ke sektor manufaktur dan usaha mikro kecil dan menengah yang berorientasi ekspor atau substitusi impor,” tandas Rahma.
Ketiga yaitu, menjaga kepercayaan pasar. Dalam hal ini pemerintah harus menjalankan komunikasi kebijakan secara konsisten.
“Ketidakpastian mengenai arah fiskal di tengah harga minyak yang tinggi sering kali lebih menakutkan bagi investor daripada angka defisit itu sendiri,” tutupnya.
**
Penulis: Agung Ramadhan

Leave a comment