KONEQ.ID – Otoritas Jasa Keuangan Sulawesi Tengah (OJK Sulteng) menilai perkembangan sektor jasa keuangan di Sulawesi Tengah hingga akhir Desember 2025, menunjukkan kinerja yang relatif stabil dengan likuiditas yang memadai dan profil risiko yang terjaga.
Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala OJK Sulteng, Bonny Hardi Putra, saat memaparkan perkembangan sektor jasa keuangan dalam kegiatan Jurnalis Update TW I 2026, yang diselenggarakan di Madalle Café & Resto Palu, pada Jumat (13/3/2026).
“Perkembangan industri perbankan, industri keuangan non-bank dan pasar modal di Sulawesi Tengah pada periode Desember 2025 tumbuh positif seiring dengan kegiatan edukasi dan inklusi keuangan serta pelindungan konsumen yang dilakukan secara berkelanjutan,” papar Bonny.
Secara umum Bonny menjelaskan terkait sektor perbankan keseluruhan pada Desember 2025, tercatat Aset mencapai Rp81,71 triliun atau tumbuh 3,35% (yoy), Dana Pihak Ketiga (DPK) naik menjadi Rp38,53 triliun (4,67% yoy), termasuk Penyaluran kredit tumbuh 0,69% (yoy) menjadi Rp61,47 triliun. Sementara kualitas kredit tetap terjaga dengan NPL 1,06% dan Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di level 159.53%, yang mencerminkan intermediasi yang kuat.
Sementara itu, perkembangan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB), mencatat kinerja positif dengan nominal pembiayaan mencapai Rp7,76 triliun, atau meningkat dari Rp7,05 triliun secara tahunan (yoy). Menurutnya, pertumbuhan ini didukung oleh kenaikan jumlah kontrak yang signifikan, dari 614.579 kontrak menjadi 883.444 kontrak
“Kualitas pembiayaan tetap terjaga dengan rasio Non Performing Financing (NPF) berada di level 2,08%, mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya (1,82%), namun tingkat NPF masih berada dalam batas aman sesuai standar pengawasan,” katanya.
Bonny juga mengapresiasi perkembangan positif di sektor Pasar Modal, yang sejalan dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi. Data OJK Sulteng menunjukan bahwa Single Investor Identification (SID) yang tercatat sebagai investor pasar modal mencapai 216.045 SID.
Jumlah tersebut itu terdiri dari Investasi di Reksa Dana yang mendominasi dengan 164.562 SID, atau sekitar 76,17% dari total investor. Kemudian, investasi saham meningkat signifikan menjadi 42.271 SID, dibandingkan 29.198 SID tahun sebelumnya. Terakhir SBN (Surat Berharga Negara) yang juga naik menjadi 4.212 SID dari 3.282 SID.
“Nilai transaksi saham per Desember 2025 tercatat Rp1.558,10 miliar, lebih tinggi dibandingkan Rp658,36 miliar pada Desember 2024. Aktivitas perdagangan saham menunjukkan peningkatan yang signifikan secara tahunan atau year-on-year,” jelas Bonny.
Ia menambahkan, bahwa pihaknya berkomitmen meningkatkan literasi keuangan, dengan melaksanakan kegiatan edukasi secara rutin. Sepanjang tahun 2025 OJK Sulteng telah melaksanakan 148 kegiatan edukasi dengan peserta sebanyak 142.557 orang yang terdiri dari berbagai kalangan.
“Kami berpesan kepada masyarakat agar dapat meningkatkan awareness terhadap modus-modus kejahatan digital yang semakin beragam. Terhadap penawaran dan/atau transaksi-transaksi yang mencurigakan, masyarakat diharapkan dapat lebih berhati-hati dan tidak mudah terpengaruh oleh bujuk rayu pelaku kejahatan,” tutup Bonny.
**
Penulis: Agung Ramadhan

Leave a comment