Jika situasi ini berlanjut, harga minyak yang tinggi akan memukul importir minyak terbesar dunia seperti China, Eropa, dan India, sementara pihak yang diuntungkan adalah negara eksportir seperti Rusia, Kanada, dan Norwegia.
Bagi Amerika Serikat, konsumen negara itu yang akan terkena dampak karena harga BBM yang tinggi akan menekan pendapatan mereka. Namun, perekonomian negara ini secara keseluhan tidak akan terkena dampat besar karena cadangan shale membuat AS sebagai negara pengekspor minyak.
Tentu saja, semua ini akan bergantung pada situasi ke depan. Para analis Bloomberg mengatakan balasan dari Iran akan terus meningkat.
“Meski Iran tidak bisa melawan kekuatan militer AS, negara ini bisa menyebabkan kerugian besar dan berupaya mempersulit AS di kawasan,” kata Analis Bloomberg, Daoud dan Enfandiary, Becca Wasser, dan Jennifer Welch.
Gejolak Pasar Global
Bagi perekonomian global yang sudah kacau akibat kebijakan tarif Trump dan ketidakpastian terkait dampak AI terhadap pasar tenaga kerja, ketegangan di Timur Tengah ini semakin menimbulkan ketidakpastian Ekonomi-Politik.
Jika gejolak pasar terus terjadi, negara-negara dengan sedikit cadangan devisa akan menjadi rentan.
Para analis di Citigroup mengatakan negara seperti Argentina, Sri Lanka, Pakistan dan Turki “menghadapi tekanan lebih besar akibat modal yang keluar dan depresiasi mata uang.”
Dalam upaya melindung mata uangnya, bank sentral Turki mengumumkan penundaan lelang repo satu minggu karena sitausi di pasar finansial.
Turki juga rentan akan perubahan pada sentimen pasar kerena hubungan dagangnya dengan Iran.
“Iran adalah negara dengan perekonomian kecil tetapi pasar melihatnya sebagai salah satu alasan yang bisa berdampak negatif pada Turki,” tulis Robin Brooks, penulis Shadow Price Macro Substack.

Leave a comment