KONEQ.ID – Amerika Serikat (AS) dan Israel resmi melancarkan serangan gabungannya ke Iran, pada Sabtu (28/2/2026), yang kemudian disambut Iran dengan serangan balasan ke sejumlah area dan pangkalan militer AS-Israel. Serangan tersebut mulai berdampak terhadap ekonomi global, termasuk Indonesia.
Pertempuran ini terjadi setelah adanya ketegangan yang terus memanas dalam beberapa minggu terakhir. Selain itu selama setahun terakhir para ekonom memperkirakan dampak perang dagang yang diluncurkan Presiden AS Donald Trump. Kini, mereka juga menghitung dampak perang yang sebenarnya.
Melansir laporan Malcolm Scott, Bloomberg, bahwa dampak paling cepat dan nyata dari peningkatan konflik yang kini terjadi di Kawasan Timur Tengah itu, adalah reaksi pasar karena para investor beralih ke aset yang dianggap aman (safe-havens), seperti emas, sementara harga saham turun.
Situasi ini membuat negara-negara ekonomi kecil, terutama yang memiliki cadangan devisa kecil, menjadi rentan.
Lonjakan Harga Minyak
Mekanisme tranmisi utama untuk perekonomian dunia adalah minyak. Jenis Brent dengan harga patokan utama untuk pembelian minyak di seluruh dunia, naik hingga 13% berada di atas US$82 per barel, harga tertinggi sejak Januari 2025. Sementara West Texas Intermediate (WTI) atau jenis Crude yang berasal dari AS bergerak mendekati US$72 di awal perdagangan Asia, Senin (2/3/2026).
Bloomberg menulis bahwa Iran memasok sekitar 5% kebutuhan minyak dunia, dan penghentian produksi total akan mendongkrak harga hingga sekitar 20% lebih tinggi. Sementara sekitar 20% pasokan minyak dunia beredar melalui Selat Hormuz yang berada di sekitar wilayah Iran. Jika jalur itu ditutup, harga minyak bisa mencapai US$108 per barel.

Leave a comment