Minggu , 15 Februari 2026
Home EkoBiz Apindo Sebut 4 Faktor Utama Bikin Usaha Dalam Negeri Kurang Kompetitif
EkoBizIndex

Apindo Sebut 4 Faktor Utama Bikin Usaha Dalam Negeri Kurang Kompetitif

5
Bloomberg Technoz Economic Outlook 2026 di Jakarta Kamis 12 2 2026. Bloomberg Technoz Andrean Kristianto
Bloomberg Technoz Economic Outlook 2026 di Jakarta. (Sumber: Bloomberg/Andrean)

KONEQ.ID – Anggota Bidang Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Ajib Hamdani, menyebut ada empat faktor utama yang membuat daya saing dunia usaha dalam negeri menjadi kurang kompetitif, sehingga masih tertinggal dibanding negara lain.

Ajib menjelaskan terdapat empat persoalan mendasar tersebut yang membuat dunia usaha menghadapi biaya tinggi atau high cost economy. Produk Indonesia bahkan saat ini tidak hanya bersaing dengan produk China dan Vietnam, melainkan Kamboja dan Thailand.

“Artinya kompetitiveness-nya kita itu punya problem, kita capture ada 4 hal utama yang membuat kita adanya high cost economy,” kata Ajib dalam Bloomberg Technoz Economic Outlook 2026, dikutip Kamis (12/2/2026).

Pertama, biaya logistik. Ajib menyebut porsi biaya logistik di Indonesia masih berada di kisaran 14–18% terhadap produk domestik bruto, lebih tinggi dibanding negara lain yang berada di level 8–10%. Tingginya ongkos logistik dinilai membebani harga pokok produksi dan harga jual barang.

Kedua, biaya energi yang dinilai masih mahal dibanding negara pesaing seperti Vietnam.

Ketiga, tingginya cost of fund. Ajib mengatakan suku bunga pinjaman bagi pelaku usaha untuk ekspansi maupun belanja modal berkisar 8–14%. Sementara untuk kredit konsumsi, termasuk kredit perumahan dengan skema bunga mengambang, dapat mencapai 14–16%.

Keempat, kualitas sumber daya manusia. Ia menilai produktivitas dan daya saing tenaga kerja Indonesia masih perlu ditingkatkan.

Ajib menyatakan keempat faktor tersebut memerlukan intervensi pemerintah agar tercipta ekonomi berbiaya rendah. Dengan biaya yang lebih efisien, barang dan jasa produksi dalam negeri dinilai akan lebih mampu bersaing, baik di tingkat Asia maupun global.

Selain itu menurutnya, struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih ditopang konsumsi rumah tangga lebih dari 53%. Dengan kondisi tersebut, pertumbuhan secara alamiah berada di kisaran 4%. Namun untuk mencapai level 5% hingga 6% seperti yang ditargetkan pemerintah, dibutuhkan intervensi yang tepat sasaran melalui kebijakan fiskal dan moneter.

(kq/gx)

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Menteri Keuangan Purbaya di Kegiatan Wisuda UIi
EkoBizIndex

Sektor Swasta Punya Peran Kunci Ekspansi Ekonomi Jangka Panjang

KONEQ.ID – Sektor swasta dianggap memiliki peran kunci dalam melakukan ekspansi ekonomi...

Hotel Khas Palu Berbagi dan Sajikan Cita Rasa Berkah Ramadhan Dokumentasi Foto Agung Koneq
EkoBizIndex

Hotel Khas Palu Berbagi dan Sajikan Cita Rasa Berkah Ramadhan

KONEQ.ID – Hotel Khas Palu menyajikan “Cita Rasa Berkah Ramadhan” dengan berbagi...

Pasokan Pangan Melimpah Importir Diingatkan Tidak Mainkan Harga saat Ramadan 2026 2 1
EkoBizIndex

Pasokan Pangan Melimpah, Importir Diingatkan Tidak Mainkan Harga saat Ramadhan

KONEQ.ID – Pasokan pangan seperti beras hingga telur ayam melimpah dalam kondisi...

Talkshow Outlook Bisnis Property Sulteng 2026 PWI Sulteng 1
PemerintahIndex

Kepala BP3KP Sebut 300 Ribu Warga Sulteng Belum Punya Rumah

KONEQ.ID – Kepala Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan dan Kawasan Permukiman (BP3KP) Sulawesi...