Beberapa segmen hotel dinilai Arief berpotensi pulih lebih cepat. Misalnya, hotel bintang 5 yang mengandalkan merek global dan tamu free independent traveler (FIT), serta segmen hotel bintang 3 yang didukung oleh acara non-MICE seperti konser musik, maraton, dan acara nasional maupun internasional lainnya di Jakarta.
Adapun pada akhir tahun 2025, tingkat hunian alias okupansi menurut Cushman & Wakefield Indonesia akan mencapai 65%, turun 3% YoY. Perusahaan mencatat, okupansi berdasarkan kategori hotel bintang 3 (midscale) sebesar 64%, hotel bintang 4 (upper-midscale) sebesar 65%, hotel bintang 5 (upper & upper-upper) sebesar 66%, dan hotel mewah (luxury) sebesar 61%.
Untuk mendorong pemulihan, Ketua Umum The Housing Urban Development (HUD) Institute, Zulfi Syarif Koto, menyarankan pembenahan internal di sektor perhotelan, termasuk peningkatan efisiensi operasional tanpa melakukan pemutusan hubungan kerja.
Selain itu, Zulfi berharap pemerintah dapat memberikan insentif untuk meringankan beban usaha hotel, mulai dari pajak yang ditanggung pemerintah hingga keringanan biaya utilitas seperti listrik, air, dan gas.
Dengan struktur biaya yang lebih rendah, Zulfi menilai hotel memiliki ruang untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja sekaligus menjaga keberlanjutan usaha. Ia juga melihat peluang pemulihan pada 2026 lebih terbuka bagi hotel kelas menengah ke bawah.
“Karena kan dia harga murah dan harga terjangkau, tapi pelayanannya bagus dan efisien,” pungkas Zulfi.
(kq/gx)
Leave a comment