Menurutnya juga, imbauan tersebut hanya untuk menghilangkan “image” mahal, bukan menurunkan biaya perjalanan itu sendiri. Padahal, realitas mahalnya perjalanan domestik, khususnya ke wilayah Indonesia Timur dan ujung barat seperti Sumatera merupakan persoalan struktural yang harus dievaluasi.
“Indonesia ini negara kepulauan yang luas. Fakta bahwa traveling ke ujung Sumatra dan ke Indonesia Timur itu mahal, itu nggak bisa dipungkiri. Tapi jangan karena mahal, aksesnya malah dihilangkan,” jelas Maulana.
Menurut PHRI, langkah tersebut justru berisiko memperburuk kondisi daerah yang selama ini sudah terkendala konektivitas dan distribusi wisatawan. Apalagi dikatakan, OTA bukan pihak yang menciptakan harga maupun rute, melainkan maskapai penerbangan itu sendiri.
“Sepaham saya, OTA itu tidak membentuk rute dan tidak membentuk harga. Itu create by system. Sistem yang membaca semuanya,” jelasnya.
PHRI juga menyoroti lemahnya konektivitas domestik yang justru membuat rute luar negeri lebih menarik. Salah satu contoh yang disampaikan adalah Aceh.
“Sekarang orang mau ke Aceh harus transit ke Kuala Lumpur. Itu fakta. Penerbangan domestiknya kan paling cuma dari Jakarta. Bahkan dari Sumatra lebih murah ke Kuala Lumpur daripada ke Jakarta,” kata Maulana.
Leave a comment