KONEQ.ID – Pengusaha hotel menilai wacana agar Online Travel Agent (OTA) tidak lagi mengalihkan pencarian ke penerbangan transit ketika direct flight habis, justru dianggap berpotensi merugikan konsumen dan mempersempit akses antarwilayah.
Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran, merespon pihak Kementerian Perhubungan (Kemenhub) meminta adanya evaluasi dalam sistem pembelian tiket pesawat melalui online travel agent (OTA) karena membuat harga tiket melambung tinggi.
“Kalau saya jujur aja, saya tidak setuju dengan ide Kemenhub untuk menghilangkan opsi transit. Sekarang ini traveler itu punya kebutuhan beragam untuk ber-traveling, dengan tujuan apa pun, jadi konektivitas terancam,” kata Maulana dilansir dari CNBC Indonesia, Jumat (23/1/2026).
Ia menilai platform digital seperti OTA sejatinya hadir untuk membantu konsumen dalam perjalanan sesuai kebutuhan dan kemampuan mereka. Menutup opsi transit dinilai tidak menyelesaikan masalah, karena rute tersebut tetap akan muncul di platform lain, termasuk saat konsumen datang langsung ke maskapai.
“Kalau OTA tidak diperbolehkan menampilkan rute transit, apakah itu menjamin rute transit tidak muncul di OTA lainnya? OTA mana yang bisa disuruh Kemenhub untuk menghilangkan jalur transit? Apakah bisa seluruh OTA disuruh tutup? Tidak mungkin,” tegasnya.
Leave a comment