Fink bergabung dengan nama-nama tersohor seperti Elon Musk, CEO Tesla yang berbicara masa depan robot humanoid, serta CEO Anthropic, Dario Amodei, yang di hari pertama WEF menyindir melunaknya sikap pemerintah federal AS dalam memberi akses chip canggih dari Nvidia kepada China.
Sementara itu, Amodei mengatakan meskipun opini publik tentang AI telah “berfluktuasi secara liar” selama bertahun-tahun, sebagai orang dalam industri, dia percaya teknologi tersebut terus berada pada lintasan yang sama.
Setiap tiga hingga enam bulan, semua mengalami pembalikan polaritas di mana media amat antusias tentang apa yang bisa dilakukan teknologi, akan mengubah segalanya. “Dan kemudian [setelah beberapa waktu] semuanya menjadi bubble. Semuanya akan runtuh. “Yang saya lihat adalah garis eksponensial yang mulus… Dan perkembangan itu terus berlanjut,” ungkap Amodei, dilansir dari Bloomberg.
Amodei juga mengatakan AI memiliki kekuatan untuk menciptakan dunia di mana ekonomi tumbuh pesat, tetapi hal itu tak bakal menghasilkan lebih banyak lapangan kerja. Dia menyebutnya sebagai “sisi buruk” dan sebuah “risiko”.
“Teknologi seperti diketahui secara luas akan membawa kita ke dunia di mana kita memiliki pertumbuhan produk domestik bruto yang sangat tinggi dan berpotensi juga pengangguran dan ketidaksetaraan yang sangat tinggi. Ini semua kombinasi yang hampir belum pernah kita lihat sebelumnya,” kata Amodei.
Dia memberikan contoh para insinyur di perusahaannya yang menggunakan AI untuk menulis kode, lalu mengeditnya sendiri, tetapi seiring kemajuan AI, mereka mungkin tak mempunyai pekerjaan lagi untuk dilakukan.
Leave a comment