KONEQ.ID – Kenaikan harga emas yang mencatat level puncak baru menjadi perhatian pelaku pasar pada awal tahun 2026. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, emas kian dilirik sebagai instrumen investasi. Sementara pelaku usaha emas di daerah, Kota Palu, menyebut kondisi pasar masih belum pulih sepenuhnya.
Salah satu pemilik toko emas yang berada di Kawasan Pasar Bambaru Kota Palu, Jimmy, mengungkapkan perdagangan sepanjang tahun 2025 mengalami penurunan dibandingkan 2024 yang berdampak pada omsetnya.
“Untuk 2025 perdangangan emas pastinya lebih turun dari pada 2024. Karena ada lonjakan harga, dampaknya secara tidak langsung membuat omset toko juga menurun,” ujar Jimmy, pemilik toko Emas Merlin, Sabtu (24/1/2026).
Ia menjelaskan dinamika transaksi saat ini cenderung tidak seperti biasanya. Ketika harga emas meningkat, masyarakat umumnya ramai menjual. Namun kali ini, dugaannya banyak masyarakat justru memilih menahan kepemilikan emas mereka.
“Untuk transaksi juga sedikit membingungkan, karena biasanya saat harga emas naik banyak orang yang menjual, nyatanya tidak juga. Banyak yang lebih sayang menjual emasnya,” katanya.
Di pasar lokal, perubahan preferensi masyarakat juga terlihat. Musmuliadi, salah satu perwakilan vendor PT Pegadaian area Palu yang aktif dalam perdagangan produk emas menuturkan bahwa minat beli saat ini cenderung mengarah ke emas batangan dibandingkan perhiasan.
“Sekarang pasar lokal cenderung beli, dan yang paling banyak diminati emas batangan. Sepertinya masyarakat sudah mulai memahami manfaat emas sebagai tabungan dan investasi,” ungkapnya.
Kondisi ini menunjukkan pergeseran orientasi masyarakat dari sekadar konsumsi menuju investasi aset lindung nilai. Namun, fluktuasi harga yang cukup tajam masih menjadi tantangan tersendiri, terutama dalam menjaga kestabilan di tengah ketidakpastian ekonomi.
Sementara dari sisi global prospek emas dinilai masih cukup cerah. CoFounder PasarDana, Yohanis Hans Kwee menyampaikan, terdapat potensi kenaikan tambahan harga emas hingga 20 persen berdasarkan proyeksi sejumlah lembaga keuangan internasional, seperti Bank of America, Goldman Sachs, dan Deutsche Bank.
Menurut dia, sejumlah faktor menjadi pendorong utama penguatan emas, mulai dari pertumbuhan ekonomi global yang lemah, kebijakan moneter yang akomodatif, meningkatnya risiko geopolitik, hingga aksi beli besar-besaran oleh bank sentral.
“Emas pada 2026 menarik karena adanya kombinasi defisit anggaran yang besar, ketegangan global, serta kekhawatiran terhadap stabilitas nilai dolar AS. Bahkan dalam jangka panjang, harga emas dunia berpeluang mencapai 10.000 dolar AS per troy ounce pada 2030,” paparnya dalam diskusi secara daring yang digelar Bursa Efek Indonesia, pada Jumat (23/1).
Sebagai informasi, rekor tertinggi harga emas terakhir diketahui tercatat pada 23 Januari 2026, yang mana produk emas batangan PT Aneka Tambang tbk. (ANTM) naik mencapai Rp2.880.000 per gram. Sementara harga pembelian kembali atau buyback di kisaran Rp2.715.000.
Sedangkan, di pasar global, harga emas pernah menyentuh rekor yang sangat tinggi pada awal Januari 2026 dengan level sekitar USD 4.600 per troy ons, yang juga menjadi tingkat tertinggi dalam sejarah pasar emas dunia.
(kq/gx)
Leave a comment