Dari sisi pasar modal, reformasi BUMN yang diinisiasi Danantara telah mendapat respons positif. Saham-saham BUMN nonbank tercatat mengungguli indeks MSCI Indonesia (MXID) lebih dari 25 persen sepanjang tahun berjalan, terutama didorong oleh kenaikan valuasi.
Pasar menilai reformasi ini berpotensi meningkatkan profitabilitas, dividen, dan imbal hasil ekuitas (ROE) BUMN. JPMorgan juga mencatat spekulasi bahwa Danantara tengah bersiap menempatkan sekitar USD1,5 miliar dana ke pasar saham domestik pada 2026.
Peran Danantara Investment Management juga dinilai strategis dalam mendukung proyek prioritas pemerintah tanpa terikat batas defisit fiskal 3 persen.
Selain dana tunai dari penerbitan Patriot Bond, Danantara telah mengamankan komitmen pembiayaan lebih dari USD14 miliar dari mitra global, yang dapat ditarik sesuai kebutuhan proyek. Investasi diperkirakan meningkat pada 2026, seiring makin jelasnya sektor-sektor prioritas dan pipeline proyek.
Prospek Pasar Saham Indonesia
Dengan kombinasi belanja fiskal dan investasi Danantara, JPMorgan memproyeksikan prospek pasar saham Indonesia akan semakin cerah pada 2026.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan mencapai level 9.200 pada akhir 2026 dalam skenario dasar, dengan potensi naik hingga 10.000 pada skenario bullish dan turun ke 7.800 pada skenario bearish, dengan asumsi pertumbuhan laba sebesar 8 persen serta rasio price to earnings (P/E) di kisaran 15 kali.
Sektor yang diperkirakan diuntungkan, antara lain industri, material, konsumer, dan real estate, sementara peran Danantara disebut dapat menjadi ‘swing factor’ yang menghidupkan kembali sentimen positif di pasar saham nasional.
(kq/gx)
Leave a comment